Ekonomi

BI Prakiraan Penjualan Eceran Juli 2026 Tumbuh 0,9%

Bagikan:

Bank Indonesia (BI) merilis survei penjualan eceran Juli 2026 yang menunjukkan Indeks Penjualan Riil (IPR) di level 224,4 atau tumbuh 0,9% secara tahunan. Kenaikan ini ditopang oleh peningkatan penjualan pada beberapa kelompok barang, meski secara bulanan penjualan diprakirakan turun 0,3% karena normalisasi permintaan pasca periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah.

Pendorong pertumbuhan tahunan

BI mencatat bahwa pertumbuhan IPR Juli 2026 lebih tinggi dibandingkan Juni 2026. Dorongan utama berasal dari kenaikan penjualan pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta kelompok Suku Cadang dan Aksesori dan Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya. Kelompok-kelompok ini berkontribusi positif terhadap kenaikan IPR bulan Juli.

  • Makanan, Minuman, dan Tembakau
  • Suku Cadang dan Aksesori
  • Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya

Kinerja bulanan dan perbandingan tahunan

Secara bulanan, penjualan eceran pada Juli 2026 diprakirakan mengalami kontraksi sebesar -0,3%. BI menjelaskan penurunan ini sebagai normalisasi permintaan setelah berakhirnya puncak aktivitas konsumsi pada HBKN dan masa libur sekolah.

Meskipun ada penurunan bulanan, kinerja Juli 2026 tercatat lebih baik dibanding Juli 2025 yang anjlok hingga -4,1%. Untuk konteks, IPR pada Juni 2026 tercatat di level 225, dengan pertumbuhan bulanan 0,7% setelah mengalami kontraksi -1,5% pada bulan sebelumnya.

Ekspektasi harga dan tekanan inflasi

Selain data penjualan eceran, survei BI juga memuat Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) yang memberi gambaran tekanan inflasi ke depan. BI memprakirakan penurunan tekanan inflasi pada September 2026, namun peningkatan kembali menjelang akhir tahun.

  • IEH September 2026: 155,2 (lebih rendah dari Agustus 2026: 178)
  • IEH Desember 2026: 168,1 (naik dari November 2026: 167,5)

Pergerakan IEH ini mencerminkan ekspektasi pelaku usaha dan konsumen terkait harga umum hingga akhir 2026, yang berpotensi memengaruhi kebijakan dan strategi bisnis di sektor ritel.

Implikasi dan prospek

Ringkasnya, pasar ritel menunjukkan perbaikan tahunan meski ada koreksi bulanan pasca periode liburan. Ke depan, pihak pelaku usaha perlu mencermati dinamika permintaan setelah musim puncak konsumsi dan perkembangan ekspektasi harga untuk menyesuaikan persediaan serta strategi harga.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait