BI Cermati Fluktuasi Rupiah Usai Kenaikan BI Rate
Bank Indonesia (BI) menyatakan akan terus mencermati fluktuasi nilai tukar rupiah pasca kenaikan suku bunga, sambil melakukan intervensi pasar untuk mendukung aliran modal asing. Pernyataan ini disampaikan menyusul pelemahan rupiah mendekati level Rp18.000 per dolar AS setelah dua hari menguat.
Langkah BI dalam menstabilkan rupiah
BI menegaskan intervensi dilakukan baik di pasar luar negeri maupun domestik untuk meredam volatilitas. Intervensi di pasar offshore dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF).
Sementara itu, di dalam negeri BI aktif bertransaksi di pasar spot dan melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). BI juga menaikkan imbal hasil instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) seiring kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).
"BI juga akan menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik guna mendukung aliran masuk modal asing," kata Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam pernyataan tertulis, Jumat 12 Juni 2026.
Intervensi konsisten dan respons investor
Denny menyampaikan intervensi dilakukan secara konsisten dan terukur. Menurutnya, respons investor terhadap bauran kebijakan BI cukup positif.
"Intervensi dilakukan secara konsisten dan terukur," ucap Denny.
Respon positif pasar tercermin dari meningkatnya aliran masuk modal asing, khususnya ke instrumen SRBI setelah lelang pada 10 Juni 2026. Aliran modal asing juga mulai kembali ke pasar SBN, terutama pada tenor pendek dan menengah.
Pergerakan nilai tukar dan kondisi terkini
Meski diupayakan stabilisasi, rupiah masih bergerak fluktuatif. Pada Kamis lalu nilai tukar tercatat berada di Rp17.988 per dolar AS, sedikit melemah dibandingkan posisi hari sebelumnya di Rp17.944 per dolar AS.
BI sebelumnya menaikkan BI Rate menjadi 5,5 persen dalam langkah di luar jadwal. Kenaikan suku bunga ini merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar dan menarik kembali modal asing.
Prospek dan implikasi
Optimisme BI bertumpu pada kecenderungan masuknya kembali modal asing dan efektivitas intervensi pasar. Jika aliran modal berlanjut, tekanan di pasar valuta asing diperkirakan akan berkurang.
Pemantauan terus dilakukan oleh BI terhadap kondisi pasar keuangan global dan domestik. Langkah kebijakan berikutnya kemungkinan akan disesuaikan berdasarkan dinamika arus modal dan pergerakan imbal hasil global.
Berita Terkait
IHSG Dibuka 5.960,41 Menguat 1,26% pada 12 Juni 2026
IHSG dibuka menguat 1,26% ke 5.960,41 pada 12 Juni 2026; analis melihat peluang rebound teknikal meski ada s...
IHSG Diprediksi Rebound Akhir Pekan, Sentimen Minyak dan Ritel Jadi Kunci
IHSG diperkirakan rebound akhir pekan ini setelah turun ke 5.886; aliran modal asing, harga minyak, dan data...
Adipati: DSI Harus Fokus Kembangkan Pasar dan Hilirisasi
Adipati menyarankan DSI fokus membuka pasar dan mendukung hilirisasi, dengan fungsi pengawasan dipisah dari...
Lemigas-Pertagas Sepakati Pemanfaatan Pipa Cisem II
Lemigas dan Pertagas menandatangani kerja sama pemanfaatan pipa Cisem II pada 11 Juni 2026 untuk memperkuat...
KAI Targetkan Penurunan Emisi 25,76% hingga 2030
KAI menargetkan pengurangan emisi 166.873 ton (25,76%) hingga 2030, melalui listrikifikasi, biodiesel, panel...
KAI Services Bina 113 Petugas Pengaman LRT Jabodebek
KAI Services membina 113 petugas pengamanan LRT Jabodebek pada 10 Juni 2026 untuk tingkatkan kedisiplinan, p...