Bed rotting: Tren Gen Z, data survei, dan risiko kesehatan
Bed rotting kini menjadi tren di kalangan Generasi Z. Istilah ini merujuk pada kebiasaan rebahan lama di atas kasur untuk aktivitas pasif seperti makan, menonton, atau scrolling media sosial. Fenomena ini dipakai sebagian anak muda sebagai bentuk self-reward setelah aktivitas panjang, namun ahli memperingatkan adanya risiko kesehatan mental jika dilakukan berlebihan.
Apa itu bed rotting?
Bed rotting bukan sekadar tidur. Istilah ini menggambarkan periode lama berada di tempat tidur tanpa tujuan aktif—hanya bersantai atau berpangku tangan pada layar. Aktivitas ini bisa berlangsung berjam-jam dan sering dilakukan di siang maupun malam hari.
Mengapa populer di Gen Z?
Fenomena ini tumbuh di tengah tekanan budaya produktivitas yang kuat. Banyak Gen Z melihat rebahan lama sebagai cara untuk memulihkan tenaga dan mengatasi kelelahan mental. Namun tren juga didorong oleh kebiasaan konsumsi konten digital yang mudah diakses dari kasur.
Survei American Academy of Sleep Medicine (AASM) pada 2024 menunjukkan tren ini meningkat signifikan:
- 37% orang Amerika mencoba tren tidur viral tahun itu.
- 55% responden Gen Z mengaku pernah bereksperimen dengan praktik ini.
- 24% Gen Z secara terang-terangan mempraktikkan bed rotting.
- Lebih dari separuh responden menghabiskan setidaknya 30 menit di kasur sebelum berusaha tidur, dan 27% melakukan hal serupa di pagi hari.
Pandangan ahli
Beberapa psikolog melihat sisi positif praktik ini bila dilakukan terbatas. Mereka menyebut rebahan singkat bisa menenangkan dan meredakan stres fisik atau mental ekstrem. Namun ada pula peringatan soal batas yang tipis antara istirahat sehat dan kebiasaan yang memperburuk kondisi psikologis.
"Masyarakat kita cenderung memberikan penekanan yang terlalu besar dan mendewakan sikap untuk selalu sibuk atau produktif setiap saat," ujar Nicole Hollingshead, psikolog klinis dari Ohio State University Wexner Medical Center.
"Dalam dosis kecil, aktivitas rebahan ini memang bisa menenangkan tubuh serta membantu meredakan stres dan kelelahan fisik yang ekstrem," kata psikolog Courtney DeAngelis dari NewYork-Presbyterian.
Risiko dan batas aman
Ahli menekankan pentingnya batas. Jika praktik ini menggantikan interaksi sosial, aktivitas fisik, atau rutinitas tidur, risiko depresi dan kecemasan bisa meningkat. Rebahan yang berkepanjangan juga dapat mengganggu pola tidur dan produktivitas harian.
Praktik yang lebih aman adalah menjadikan rebahan sebagai jeda singkat yang disengaja. Gabungkan waktu istirahat dengan aktivitas yang memulihkan lain, seperti olahraga ringan, interaksi sosial, dan kebiasaan tidur yang teratur.
Kesimpulan
Bed rotting mencerminkan perubahan cara generasi muda memulihkan diri di era digital. Meski memberi kenyamanan sesaat, penting membatasi waktu rebahan agar tidak berujung pada masalah kesehatan mental. Pemahaman dan pengaturan diri akan menentukan apakah kebiasaan ini menjadi istirahat yang sehat atau sumber risiko baru.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
DAM Rayakan Harpelnas 2026: 'Satu Hati, Menemani Setiap Langkah'
DAM mengajak konsumen Honda Jawa Barat merayakan Harpelnas 4 Sept 2026 lewat Festival 'Satu Hati, Menemani S...
CISDI Desak Label Depan Cantumkan Gula, Garam, Lemak
CISDI mendesak pemerintah mewajibkan label depan kemasan menampilkan informasi gula, garam, dan lemak untuk...
Pelajar Rajut Peta 2,5 m dari Kain Perca, Galang Dana untuk Wisma Cheshire
17 pelajar merajut peta Nusantara dari kain perca sepanjang 2,5 m dan menggelar lelang amal di BNI wondrX 20...
Manten Gethek: Sungai Serayu Disimbolkan dalam Bisik Serayu Festival
Manten Gethek di Bisik Serayu Festival 2026 mengangkat Sungai Serayu sebagai simbol hubungan manusia dan ala...
Festival Muria Raya 2026 Perkuat Kolaborasi Seni Lintas Budaya
Festival Muria Raya #6 (5–30 Agustus 2026) menyatukan seniman Prancis, Jepang, dan lokal melalui residensi,...
Buku Baru 'Sejarah Indonesia' Terapkan Perspektif Indonesia-Sentris
Seri buku 'Sejarah Indonesia' diperbarui dengan metodologi rigid dan perspektif Indonesia-sentris untuk memp...