Batik Aceh Besar Tampil di Rakerda, Promosi Budaya Lewat Batik Malaka
Ketua Dekranasda Aceh Besar, Hj Rita Mayasari, mengenakan Batik Malaka saat tampil sebagai narasumber pada Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Dekranasda Aceh. Acara digelar Minggu (12/9) di Galeri Dekranasda Aceh, Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh. Penampilan ini bertujuan memperkenalkan kerajinan daerah sekaligus mempromosikan identitas budaya Aceh Besar.
Penampilan membawa pesan identitas
Rita memilih Batik Malaka sebagai representasi visual dari kekayaan motif dan corak Aceh Besar. Pilihan busana itu bukan sekadar gaya, tetapi strategi untuk menempatkan produk lokal di ruang resmi. Dengan demikian, batik diposisikan sebagai karya budaya yang layak diperkenalkan di tingkat provinsi hingga nasional.
"Menyoe na ata droe kepeu ata gop," ujar Rita, yang artinya "Kalau ada milik sendiri untuk apa punya orang."
Rakerda sebagai ruang sinergi kerajinan
Rakerda Dekranasda Aceh mempertemukan seluruh Ketua Dekranasda kabupaten/kota se-Aceh. Pertemuan ini menjadi wadah memperkuat sinergi dalam pengembangan kerajinan dan industri kreatif tiap daerah. Kehadiran Rita dengan batik Aceh Besar menggarisbawahi pentingnya memberi ruang bagi perajin tampil di agenda resmi.
Menurutnya, pengembangan batik merupakan langkah strategis untuk mendorong produk lokal dikenal lebih luas. Kreativitas perajin dalam motif, corak, warna, dan desain menjadi modal utama agar produk memiliki nilai budaya dan ekonomi.
Peluang ekonomi dan pelestarian budaya
Di tengah tren fesyen dan perkembangan ekonomi kreatif, inovasi menjadi kunci agar produk tradisional tetap relevan. Batik daerah perlu dikembangkan sehingga mengikuti selera pasar tanpa menghilangkan akar budaya. Promosi berkelanjutan disebut penting untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
"Di tangan para perajin, kekayaan budaya dapat diolah menjadi karya yang bernilai, sementara melalui promosi yang berkelanjutan, produk tersebut dapat menjangkau pasar yang lebih luas," ungkap Rita Mayasari.
Implikasi dan langkah ke depan
Seringnya penggunaan dan paparan produk daerah di forum resmi dapat meningkatkan pengenalan dan apresiasi publik. Langkah sederhana seperti mengenakan batik saat pertemuan resmi dapat menjadi bagian dari strategi promosi budaya. Selanjutnya, dukungan program pelatihan desain, akses pasar, dan promosi perlu diperkuat untuk mendorong daya saing produk lokal.
Dengan satu kain batik, Aceh Besar memperkenalkan identitasnya: budaya yang dijaga, kreativitas yang berkembang, dan karya masyarakat yang layak mendapat ruang lebih luas.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
PTPN IV Langsa Peringati Maulid dan Santuni 100 Anak Yatim
PTPN IV Regional IV peringati Maulid Nabi di Langsa dan santuni 100 anak yatim, menekankan integritas, ketel...
Langsa Jadi Lokus Visitasi PKN II untuk Pemulihan Pascabencana
Pemko Langsa menerima 32 peserta PKN II untuk mempelajari kepemimpinan adaptif dan praktik pemulihan pascabe...
Tiga Calon Lolos Seleksi Administrasi Direktur Perumda Air Minum Langsa
Pemko Langsa menetapkan tiga calon lulusan seleksi administrasi Direktur Perumda Air Minum Tirta Keumuneng p...
RUUPA Aceh Perlu Ditelaah, Prof Muzakkir: Jangan Puas Delapan Pasal
Prof Muzakkir minta RUUPA Aceh ditelaah ulang meski sudah diparipurnakan; masih terbuka ruang konstitusional...
Polres Tapteng Tangkap Pemuda Tersangka Sabu 0,39 gram
Satresnarkoba Polres Tapteng menangkap DB (22) di Pinangsori, 11 Sept, dengan barang bukti sabu seberat 0,39...
Dayah Darul Quran Aceh Kirim Delegasi ke MTQ Nasional 2026
Dayah Darul Quran Aceh mengirim tiga wakil ke MTQ Nasional XXXI 11–20 Sept 2026 di Semarang; direktur juga d...