Lokal

TN Batang Gadis Catat 206 Titik Kehadiran Tapir Asia pada 2025

Bagikan:
Tapir Asia berjalan di habitat hutan Taman Nasional Batang Gadis

MADINA — Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) mencatat 206 titik kehadiran Tapir Asia (Tapirus indicus) pada 2025, naik 29,56% dibandingkan 159 titik pada pemantauan sebelumnya. Data ini berasal dari kamera jebak, temuan tapak dan kotoran, serta catatan patroli berbasis SMART yang direkam menggunakan GPS.

Data pemantauan 2025

Balai TNBG melaporkan 206 titik kehadiran Tapir Asia setelah menambahkan 47 titik temuan baru selama periode pemantauan 2025. Temuan direkam melalui dokumentasi visual kamera jebak, jejak fisik, bekas pakan, dan pencatatan di aplikasi SMART Patrol.

Angka tersebut menunjukkan peningkatan signifikan yang mengindikasikan kondisi habitat masih mendukung, dengan tutupan hutan, ketersediaan pakan, dan tingkat gangguan yang relatif rendah.

Temuan ilmiah dan perbandingan regional

Hasil pemantauan TNBG sejalan dengan penelitian luas yang dilakukan oleh Matthew Linkie et al. pada 2013. Studi itu mengumpulkan data kamera jebak dari Sumatera, Semenanjung Malaysia, Thailand, dan Myanmar.

Taman Nasional Batang Gadis tercatat memiliki estimasi probabilitas pertemuan (occupancy encounter probability) Tapir Asia tertinggi, yakni 0,90 dari 1. Nilai ini menegaskan posisi TNBG sebagai salah satu habitat inti untuk spesies yang berstatus Endangered menurut IUCN.

Peran ekologi Tapir Asia

Tapir Asia adalah mamalia herbivora terbesar di Asia Tenggara dan berfungsi sebagai penyebar biji utama yang mendukung regenerasi hutan tropis. Oleh karena itu, keberadaan populasinya sering dipakai sebagai indikator kesehatan ekosistem hutan.

Pernyataan pihak pengelola

Kepala Balai Taman Nasional Batang Gadis, Ir. Agusman, SP, M.Sc, menyatakan bahwa peningkatan titik kehadiran merupakan indikator positif keberhasilan upaya konservasi di kawasan.

Kehadiran Tapir Asia yang terus terkonfirmasi di Taman Nasional Batang Gadis menunjukkan bahwa ekosistem hutan di kawasan ini masih berada dalam kondisi yang baik dan mampu mendukung kehidupan satwa liar. Data pemantauan tahun 2025 yang menunjukkan peningkatan jumlah titik kehadiran menjadi bukti penting bahwa habitat Tapir Asia di TNBG tetap terjaga dan berfungsi secara ekologis.

Kami berkomitmen untuk terus memperkuat perlindungan kawasan melalui patroli pengamanan, pemantauan keanekaragaman hayati berbasis teknologi, serta penguatan kolaborasi dengan peneliti, mitra konservasi, pemerintah daerah, dan masyarakat sekitar kawasan.

Langkah pengelolaan dan prospek

Balai TNBG menegaskan akan menerapkan pengelolaan berbasis ilmu pengetahuan untuk memperkuat konservasi. Langkah yang diutamakan meliputi patroli intensif, monitoring berkelanjutan, dan kolaborasi lintas pihak untuk memastikan keberlangsungan populasi Tapir Asia.

Data 2025 dan bukti ilmiah mendukung posisi TNBG sebagai kawasan prioritas konservasi Tapir Asia di Indonesia. Penguatan upaya perlindungan habitat diperlukan agar fungsi ekologi dan populasi spesies tetap terjaga dalam jangka panjang.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait