Lokal

Asap Karhutla Ancam Ibu Hamil dan Perkembangan Janin

Bagikan:
Ibu hamil memakai masker saat kabut asap karhutla

MEDAN — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 18 Oktober menjadi perhatian serius bagi kesehatan ibu hamil dan perkembangan janin, terutama pada fase awal pembentukan organ jantung.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Sumatera Utara, dr. Rizky Adriansyah, M.Ked(Ped), Sp.A, Subsp.Kardio(K), menekankan pentingnya perlindungan bagi ibu hamil dari paparan polusi udara, termasuk partikel halus PM2.5 yang terkandung dalam asap karhutla.

Mengapa masa awal kehamilan rentan

Pembentukan organ vital janin berlangsung pada minggu-minggu pertama kehamilan. Periode ini melibatkan proses bertahap dan kompleks yang sensitif terhadap faktor lingkungan.

"Pembentukan jantung janin berlangsung pada fase awal kehamilan. Pada periode tersebut, perkembangan organ berlangsung secara bertahap dan kompleks sehingga kesehatan ibu serta lingkungan tempat tinggal perlu mendapat perhatian,"

Karena itu, paparan polusi pada tahap awal ini meningkatkan kekhawatiran meski tidak berarti setiap paparan akan menyebabkan kelainan bawaan.

Dampak PM2.5 dan bukti ilmiah

Partikel PM2.5 mampu menembus jauh ke dalam saluran pernapasan dan memasuki sirkulasi darah. Paparan kronis dikaitkan dengan peradangan dan gangguan metabolik yang berpotensi memengaruhi kehamilan.

Dr. Rizky mengingatkan bahwa hubungan antara paparan asap dan kelainan jantung kongenital perlu dijelaskan melalui penelitian ilmiah yang komprehensif. Saat ini bukti menunjukkan adanya peningkatan risiko, namun tidak bersifat deterministik untuk semua kasus.

Saran perlindungan untuk ibu hamil

Untuk mengurangi paparan, dokter menyarankan langkah praktis yang bisa diterapkan oleh ibu hamil di wilayah terdampak. Perawatan rutin kehamilan juga penting untuk memantau kondisi ibu dan janin.

"Untuk mengurangi paparan polusi, ibu hamil disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menjaga udara di dalam rumah tetap bersih, serta mengikuti anjuran petugas kesehatan setempat," tegasnya.

Langkah konkret yang direkomendasikan antara lain:

  • Mengurangi aktivitas di luar saat indeks kualitas udara buruk.
  • Menggunakan masker yang efektif untuk partikel halus jika harus keluar rumah.
  • Mengupayakan sirkulasi dan filtrasi udara dalam rumah, misalnya menggunakan air purifier atau menutup jendela saat asap tebal.
  • Rutin melakukan pemeriksaan kehamilan dan berkonsultasi bila ada gejala pernapasan atau kekhawatiran.

Langkah pencegahan lebih luas

Pencegahan karhutla dan pengendalian pencemaran udara menjadi kunci untuk melindungi kesehatan masyarakat. Upaya kolektif dari pemerintah, penegak hukum, dan masyarakat diperlukan untuk mengurangi kejadian kebakaran dan paparan asap di masa mendatang.

Dengan tindakan pencegahan dan pengawasan medis yang tepat, risiko terhadap ibu hamil dan janin dapat diminimalkan sambil menunggu hasil penelitian lebih lanjut.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait