Kemenkes Kembangkan AI 'TBScreen.AI' untuk Percepat Skrining TB
Kementerian Kesehatan bersama KONEKSI dan peneliti meluncurkan inovasi TBScreen.AI pada Rabu, 3 Agustus 2026 di Jakarta untuk mempercepat skrining tuberkulosis (TB) melalui analisis foto rontgen dada. Teknologi ini disesuaikan dengan karakteristik populasi Indonesia dan dirancang untuk meningkatkan deteksi dini karena capaian penemuan kasus nasional masih tertinggal.
Teknologi dan cara kerja TBScreen.AI
TBScreen.AI memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menganalisis gambar rontgen dada. Sistem ini mempertimbangkan variabel demografis seperti usia, jenis kelamin, dan kondisi disabilitas sehingga hasil skrining diharapkan lebih akurat untuk populasi lokal.
Pengembangan berfokus pada kecepatan dan akurasi deteksi sehingga pasien yang dicurigai TB dapat dirujuk untuk pemeriksaan lanjutan dan pengobatan lebih cepat.
Data capaian dan gap penemuan kasus
Staf Tim Kerja Tuberkulosis dan ISPA Kemenkes, Rita Aryati, menyampaikan capaian nasional per 27 Juli 2026. Ia menyebut penemuan kasus masih di bawah target pemerintah.
"Hingga 27 Juli 2026, kasus yang ditemukan baru 41 persen dari target 45 persen pada Juni. Untuk kasus yang diobati, seharusnya 95 persen, tapi baru 89 persen yang menjalani terapi,"
Rita menekankan pentingnya menemukan kasus lebih awal agar pengobatan dapat segera diberikan dan rantai penularan diputus.
Prioritas provinsi dan strategi penanggulangan
Kemenkes memprioritaskan 18 provinsi dengan beban TB tertinggi. Namun hingga Juli, hanya empat provinsi yang mencapai target.
- Jawa Barat
- Banten
- Bali
- Papua Barat
Untuk meningkatkan penemuan dan pengobatan, pemerintah menggabungkan langkah-langkah berikut:
- Tracing TB terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG)
- Perluasan layanan one-stop service
- Optimalisasi penggunaan X-ray untuk skrining
- Dukungan dana untuk pengadaan ratusan unit X-ray
Akses layanan untuk kelompok rentan dan disabilitas
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menekankan bahwa teknologi harus dilengkapi pemerataan akses layanan. Kelompok penyandang disabilitas rentan namun sering menghadapi hambatan dalam asesmen dan akses pengobatan.
"Jadi ini menjadi suatu kesempatan yang sangat baik bagi kita untuk bisa menemukan TB di kalangan kaum disabilitas. Sehingga kita bisa mengobati lebih cepat,"
"Temukan (terlebih dahulu) baru obati sampai sembuh. Kalau tidak bisa ditemukan, tidak mungkin bisa diobati,"
Kolaborasi dan prospek
Kementerian terus memperkuat kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, peneliti, dan komunitas. Gabungan inovasi AI dan dukungan infrastruktur diharapkan meningkatkan cakupan skrining, mempercepat penemuan kasus, dan memperluas jangkauan pengobatan TB di Indonesia.
Implementasi TBScreen.AI dipantau untuk memastikan hasilnya memenuhi target peningkatan deteksi dan memutus rantai penularan TB secara lebih efektif.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Capaian ASI Eksklusif 66%: Tren Positif dan Tantangan Dua Minggu Awal
Cakupan ASI eksklusif di Indonesia mencapai 66%, namun ketimpangan wilayah dan minimnya pendampingan dua min...
Manfaat Minum Jus Buah bagi Kesehatan dan Pencernaan
Jus buah membantu daya tahan, pencernaan, dan hidrasi jika dibuat dari buah segar tanpa tambahan gula berleb...
Edukasi Gizi Berkelanjutan untuk Hentikan Konsumsi Susu Kental Manis
Muslimat NU dan Kemenkes dorong edukasi gizi berkelanjutan untuk mengoreksi persepsi bahwa susu kental manis...
Bahaya Konten Negatif Media Sosial bagi Kesehatan Mental Prajurit
Paparan konten negatif di media sosial dapat memicu stres, kecemasan, dan menurunkan kesiapan operasional pr...
BPJS Kesehatan Izinkan Perubahan FKTP Sebelum 3 Bulan
BPJS Kesehatan kini mengizinkan perubahan FKTP sebelum tiga bulan bagi peserta yang pindah tugas atau domisi...
Bagaimana Fobia Terbentuk: Proses, Penyebab, dan Dampak
Fobia terbentuk dari pengalaman, pembelajaran sosial, dan faktor biologis; pemahaman ini penting untuk penan...