Kesehatan

Waspada Malaria Monyet di Aceh, IDAI Ingatkan Bahaya dan Pencegahan

Bagikan:
Ilustrasi nyamuk Anopheles dan hutan sebagai habitat malaria monyet

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memperingatkan masyarakat agar mewaspadai peningkatan kasus malaria monyet terkait parasit Plasmodium knowlesi, yang dilaporkan naik di Malaysia dan Kabupaten Aceh Jaya. Pernyataan itu disampaikan pada Kamis, 14 Mei 2026, dengan catatan bahwa parasit ini mampu berkembang biak sangat cepat sehingga berisiko menyebabkan gejala berat jika terlambat ditangani.

Mengapa penyakit ini berbahaya?

Anggota IDAI, Inke Nadia Diniyanti Lubis, menjelaskan bahwa siklus hidup Plasmodium knowlesi jauh lebih singkat dibandingkan parasit malaria lain. Akibatnya, replikasi dalam tubuh manusia berlangsung cepat dan dapat memicu kondisi klinis yang serius.

“Malaria dari monyet ini bisa menyebabkan gejala yang sangat berat karena siklus hidup parasitnya jauh lebih pendek. Sehingga sangat cepat bereplikasi di dalam tubuh manusia,”

Penularan dan faktor risiko

IDAI menyatakan penularan terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles kelompok leucosphyrus setelah parasit menginfeksi monyet. Oleh karena itu, kelompok berisiko adalah masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di sekitar hutan dan perbatasan hutan.

Peningkatan kasus juga dikaitkan dengan deforestasi dan perubahan fungsi lahan, yang memperbesar interaksi manusia dengan habitat monyet dan nyamuk pembawa penyakit.

Jumlah kasus terkini

Data yang disebutkan IDAI menunjukkan peningkatan kasus di wilayah terdekat. Malaysia melaporkan 357 kasus Malaria Knowlesi dengan satu kematian di Sabah hingga pekan epidemiologi ke-16. Di Indonesia, tercatat 30 kasus di Kabupaten Aceh Jaya hingga April 2026.

Gejala dan komplikasi

Gejala infeksi meliputi demam harian, menggigil, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, serta mual dan muntah. Jika terlambat mendapat penanganan, pasien berisiko mengalami gagal ginjal, sesak napas, hingga kematian.

Cara pencegahan yang disarankan

IDAI menekankan tindakan pencegahan sederhana namun efektif untuk mengurangi risiko penularan, terutama bagi penghuni dan pekerja di daerah hutan. Rekomendasi yang disampaikan meliputi:

  • Menggunakan kelambu saat tidur.
  • Memakai losion antinyamuk.
  • Mengenakan pakaian lengan panjang saat aktifitas di luar pada jam aktif nyamuk.
  • Waspada pada jam subuh, magrib, dan malam hari ketika nyamuk lebih aktif.

“Langkah pencegahan terbaik adalah menggunakan kelambu saat tidur, memakai losion antinyamuk, dan menggunakan pakaian lengan panjang. Terutama pada jam aktif nyamuk saat subuh, magrib, dan malam hari,”

Pencegahan dan deteksi dini menjadi kunci mengurangi risiko komplikasi dan kematian. Selain itu, mitigasi dampak perubahan penggunaan lahan perlu menjadi perhatian untuk menekan interaksi berbahaya antara manusia, monyet, dan vektor nyamuk.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait

Komentar (0)

Komentar akan ditinjau sebelum ditampilkan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!