PN Medan Vonis 22 Bulan untuk Dua Terdakwa Pemalsuan Surat
MEDAN — Majelis hakim Pengadilan Negeri Medan menjatuhkan hukuman 1 tahun 10 bulan (22 bulan) penjara kepada dua terdakwa, Danil Ginting dan Julius Sardeni, setelah dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana pemalsuan surat. Putusan dibacakan pada Rabu (5/8) dan menegaskan pelanggaran Pasal 263 ayat (1) jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Putusan pengadilan
Majelis hakim yang diketuai Sarma Siregar menyatakan kedua terdakwa terbukti melakukan pemalsuan dan menjatuhkan pidana penjara selama 1 tahun 10 bulan. Dalam persidangan hakim menyampaikan putusan sebagai berikut:
“Mengadili, menjatuhkan pidana kepada kedua terdakwa dengan pidana penjara selama 1 tahun 10 bulan.”
Hakim memberi waktu bagi kedua terdakwa dan Jaksa Penuntut Umum untuk menentukan sikap, apakah menerima putusan atau mengajukan upaya hukum banding. Vonis ini lebih ringan dari tuntutan JPU yang semula meminta hukuman 2 tahun penjara untuk masing-masing terdakwa.
Kronologi dan bukti perkara
Menurut surat dakwaan, kasus bermula saat Kepala Lingkungan VII Kelurahan Lalang, Budi Arianto, menerima kuitansi bertuliskan "Gotong Royong Lingkungan" senilai Rp30.000 yang menggunakan stempel bertuliskan "Kep. Lingkungan VII Kelurahan Lalang Kecamatan Medan Sunggal". Budi memeriksa asal kuitansi karena ia tidak pernah mengeluarkan stempel atau melakukan pengutipan dana tersebut.
Pada 21 April 2025, Budi mendapat laporan tentang dugaan pungutan liar di Jalan Swadaya PU, Lingkungan VI. Saat didatangi, penyidik menemukan beberapa barang yang dibawa kedua terdakwa, antara lain:
- satu stempel bertuliskan "Panitia Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Pemuda Pancasila Kecamatan Medan Sunggal";
- satu stempel bertuliskan "Kep. Lingkungan IX Kelurahan Lalang Kecamatan Medan Sunggal";
- satu blok kuitansi.
Di tempat terpisah, Kepala Lingkungan VI, Nanda Amri, memperlihatkan kuitansi lain bertuliskan "Siskamling Jaga Malam" senilai Rp50.000 yang menggunakan stempel serupa. Kedua terdakwa kemudian mengakui membuat kuitansi, stempel, serta melakukan pengutipan dana tersebut.
Pertimbangan hakim
Majelis mempertimbangkan beberapa hal dalam vonis. Hal yang memberatkan adalah perbuatan terdakwa dinilai meresahkan warga. Sementara hal yang meringankan, kedua terdakwa mengakui perbuatan, bersikap sopan selama persidangan, dan berjanji tidak mengulangi perbuatan.
Implikasi dan langkah selanjutnya
Putusan ini memberi sinyal penindakan terhadap praktik pemalsuan dokumen dan pungutan tanpa dasar hukum di tingkat lingkungan. Kedua terdakwa kini memiliki kesempatan mengajukan banding jika memilih menempuh upaya hukum lanjutan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Turunkan Bunga PNM Mekar menjadi 8% Flat per Tahun
Pemerintah menargetkan suku bunga PNM Mekar diturunkan menjadi 8% flat per tahun, didukung subsidi Rp2,6 tri...
Golkar Labura Terima SK Kepengurusan 2025–2030, Fokus Konsolidasi
DPD Golkar Labuhanbatu Utara menerima SK kepengurusan 2025–2030 dan menargetkan konsolidasi serta regenerasi...
Razia di Rutan Banda Aceh, Senjata Tajam dan Benda Terlarang Ditemukan
Razia gabungan di Rutan Kelas IIB Banda Aceh menemukan senjata tajam dan barang terlarang, namun tidak menem...
Wali Kota: Sabang Potensial Jadi Gerbang Ekonomi dan Hub Maritim
Wali Kota Sabang hadir di seminar IKAL Aceh dan sebut Sabang berpotensi jadi hub maritim serta butuh kepasti...
Reses DPRK Subulussalam: Warga Keluhkan Lampu Jalan, Usulkan BLK Kecamatan
Warga Penanggalan keluhkan lampu jalan padam, usulkan BLK kecamatan, air bersih, dan penambahan kursi DPRK p...
Tuntutan 3 Tahun untuk Dua PSK Terkait Pemerasan ASN BPN di Medan
Dua PSK, Fajar dan Junia, dituntut tiga tahun penjara atas pemerasan terhadap ASN BPN Nias, Apriaman Lase, y...