Lokal

Bupati Batubara Puji Bank Sampah Berseri Ubah Sampah Jadi Pakan

Bagikan:
Bupati melihat proses pengolahan sampah menjadi magot, pakan ternak, dan pupuk di Bank Sampah Berseri

Batubara — Bupati Batubara Dr. H. Baharuddin Siagian menilai inovasi pengelolaan sampah terpadu yang diterapkan Bank Sampah Berseri (BSB) di Desa Kuala Tanjung, Kecamatan Seisuka, efektif mengubah sampah rumah tangga menjadi pakan dan pupuk. Kunjungan lapangan dilakukan Sabtu (19/9) untuk melihat langsung alur pengolahan yang menggabungkan budidaya magot, peternakan, perikanan, dan pertanian.

Sistem terpadu: magot, ternak, perikanan, hidroponik

Pada kunjungan itu, Bupati menyaksikan proses pemanfaatan sampah rumah tangga sebagai bahan pakan bagi magot. Magot kemudian digunakan sebagai pakan ternak—termasuk ikan lele, ayam, dan bebek—sementara air kolam ikan dialirkan kembali untuk menjadi sumber nutrisi tanaman, termasuk sistem hidroponik.

Sistem ini dirancang saling mendukung: limbah organik diolah menjadi pakan, hasil ternak dan kolam dimanfaatkan kembali untuk pertanian, sehingga membentuk siklus sumber daya yang berkelanjutan.

Manfaat lingkungan dan ekonomi

Bupati menilai model BSB mampu mengurangi volume sampah yang harus dibuang sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru bagi warga. Dengan pengolahan yang tepat, sampah rumah tangga tidak lagi menjadi beban lingkungan melainkan bahan baku produktif.

Inovasi seperti ini juga mengurangi kebutuhan pakan komersial dan pupuk kimia, sehingga menurunkan biaya produksi petani dan peternak lokal. Selain itu, sistem tertutup membantu meminimalkan pencemaran air dan bau yang biasa muncul dari tumpukan sampah.

Respons dan harapan

"Saya tertarik dari BSB ini, melihat paling atas ada tanaman hidroponik, lalu di bawahnya ada ayam petelur. Selanjutnya, di bawah kandang ayam ada magot. Magot tadi menjadi pakan ikan, kemudian air ikan disalurkan kembali ke atas untuk menjadi pupuk tanaman. Ini inovasi yang sangat menarik,"

Bupati berharap model BSB dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk mengelola sampah secara produktif. Ia mendorong penerapan praktik serupa guna menjaga lingkungan dan membuka peluang usaha baru berbasis pemanfaatan kembali limbah rumah tangga.

Implementasi dan langkah selanjutnya

Penerapan sistem terpadu seperti di Bank Sampah Berseri memerlukan pelatihan teknis, modal awal, dan dukungan kebijakan lokal agar bisa direplikasi. Kolaborasi antara pengelola bank sampah, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi kunci keberlanjutan program.

Jika didukung skala luas, model pengelolaan ini berpotensi menurunkan beban tempat pembuangan akhir sekaligus meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi lokal melalui produktivitas sampah rumah tangga.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait