Kios di Engkuni Pasek: Bukti Keberhasilan Program UEM Kubar
Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Kabupaten Kutai Barat mencatat keberhasilan Program Usaha Ekonomi Masyarakat (UEM) lewat perkembangan usaha di Kampung Engkuni Pasek. Seorang penerima pinjaman, Yohanes Ding, mengubah modal awal untuk membuka kios menjadi toko yang lebih besar bernama Victoria Market. Pernyataan ini disampaikan Penggerak Swadaya Masyarakat DPMK, Theresia, pada Selasa, 28 Juli 2026.
Perjalanan usaha: dari kios jadi toko
Awalnya modal UEM dipakai untuk membuka kios kecil. Seiring waktu, usaha tersebut tumbuh menjadi toko yang lebih luas. Pertumbuhan ini memungkinkan pemilik mendapat kesempatan pinjaman lanjutan karena catatan pengembalian yang baik.
"Ada satu yang masih saya ingat, ini yang di Kecamatan Barong Tongkok, tepatnya di Kampung Engkuni Pasek, sampai sekarang masih buka. Dulu dia pinjam untuk buka kios, sekarang boleh dikatakan toko lah,"
Theresia menjelaskan bahwa kelancaran pembayaran pada pinjaman pertama membuka akses untuk pinjaman kedua. Komitmen itu juga sempat membuat usaha tersebut mendapat penghargaan dalam kategori usaha ekonomi masyarakat yang berhasil.
"Dia pinjaman pertama lancar, terus dia lanjut lagi pinjaman kedua, juga lancar. Makanya dulu sempat dia mendapat penghargaan untuk usaha ekonomi masyarakat yang lancar dan berhasil,"
Faktor keberhasilan dan tantangan
Keberhasilan Victoria Market menunjukkan dua faktor kunci: pengelolaan usaha yang konsisten dan pemenuhan kewajiban pengembalian pinjaman. Kombinasi ini memungkinkan akses modal lanjutan dan pertumbuhan usaha.
Namun, Theresia juga menegaskan bahwa contoh ini tidak mewakili semua penerima. Selama program berjalan, ada pula penerima yang mengalami kendala sehingga usahanya tidak berkembang atau bahkan berhenti beroperasi.
- Faktor sukses: konsistensi pengelolaan usaha dan ketepatan pengembalian pinjaman.
- Tantangan: adanya penerima yang tidak mampu mengembangkan usaha meski mendapat modal.
Status program dan implikasi
Program UEM sudah tidak lagi dilaksanakan oleh DPMK Kubar sejak 2017. Meski demikian, kisah Victoria Market tetap menjadi contoh konkret bagaimana akses permodalan dapat mendorong pertumbuhan usaha di tingkat kampung bila dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
Pelajaran dari pengalaman ini relevan untuk perencanaan kebijakan pemberdayaan ekonomi lokal ke depan. Dukungan permodalan yang disertai pengawasan dan komitmen pelaku usaha berpotensi meningkatkan keberhasilan usaha mikro dan kecil di tingkat desa.
Analis bisnis yang mengulas perkembangan industri, korporasi, dan peluang investasi.
Berita Terkait
Harga Emas Antam Turun Rp12.000 per Gram, 29 Juli 2026
Harga emas Antam turun Rp12.000/gram pada 29 Juli 2026; 1 gram tercatat Rp2.601.000 dan buyback Rp2.346.000...
Rupiah Tembus Rp18.000, BI Optimalkan Bauran Kebijakan Moneter
BI memperkuat bauran kebijakan moneter setelah rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS, dengan mengoptimalkan...
Mulai 17 Oktober 2026: Kosmetik, Obat dan Produk Lain Wajib Bersertifikat Halal
Sejak 17 Oktober 2026, kosmetik, obat, dan berbagai produk lain wajib memiliki sertifikat halal sebagai bagi...
UMKM Jadi Penopang Utama Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
UMKM menjadi penopang utama ekonomi Indonesia, menyumbang 60% PDB dan menyerap 97% tenaga kerja; tantanganny...
DPMK Kutai Barat Hentikan Penyaluran Pinjaman UEM Sejak 2017
DPMK Kutai Barat menghentikan penyaluran pinjaman Program UEM sejak 2017 karena dinilai tumpang tindih denga...
Pinjaman UKM Kubar Beralih ke UPT Dana Bergulir
Pelayanan pinjaman UKM di Kutai Barat dipindahkan ke UPT Dana Bergulir di bawah Disdagkop; plafon pinjaman h...