DPMK Kutai Barat Hentikan Penyaluran Pinjaman UEM Sejak 2017
Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Kabupaten Kutai Barat menghentikan penyaluran pinjaman melalui Program Usaha Ekonomi Masyarakat (UEM) sejak 2017. Keputusan diambil setelah adanya arahan agar program pembiayaan tidak tumpang tindih dengan program unit kerja lain, sehingga penyaluran dihentikan sementara meski penagihan tetap dilaksanakan.
Sejarah singkat dan alasan penghentian
Program UEM berjalan sejak 2007 dan menyalurkan modal kepada pelaku usaha perorangan yang belum memiliki izin usaha. Kebijakan menghentikan penyaluran muncul setelah Inspektorat menilai terdapat overlapping dengan program pembiayaan yang dikelola dinas lain.
Menurut penggerak Swadaya Masyarakat DPMK, Theresia, keputusan itu merupakan kebijakan pimpinan untuk menghindari duplikasi program antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
"Karena dari Inspektorat menyatakan bahwa kita seperti overlapping dengan Disperindagkop, jadi program dihentikan,"
Mekanisme dan persyaratan pinjaman UEM
Sebelum dihentikan, UEM memberi akses modal kepada pelaku usaha kecil perorangan dengan persyaratan sederhana. Program ini memang berbeda dari penyaluran untuk UMKM yang berizin.
- Periode berjalan: 2007–2017.
- Target: pelaku usaha tanpa legalitas atau izin usaha.
- Syarat pengajuan: permohonan peminjam disertai persetujuan suami/istri dan diketahui pimpinan kampung.
- Mekanisme: perjanjian dengan DPMK, penyaluran dana, lalu pengembalian melalui angsuran berbunga ringan.
"Jadi UEM ini, awalnya itu dari 2007 sampai dengan 2017, mereka tetap mendapatkan saluran dana dengan sistem pinjaman. Jadi ibu-ibu ataupun bapak-bapak peminjam, dia perorangan... Dia tidak perlu izin usaha," kata Theresia, Selasa 28 Juli 2026.
Penagihan tetap berjalan, pendampingan dilanjutkan
Meski penyaluran baru tidak dilakukan, DPMK masih menagih pinjaman yang belum lunas. Sementara itu, kegiatan pendampingan kepada masyarakat tetap berjalan berupa pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dan kapasitas berusaha.
Theresia menegaskan bahwa walau program dihentikan, DPMK terus memberikan dukungan non-finansial kepada warga.
Perbedaan sasaran dan catatan penutup
DPMK berpendapat sasaran UEM berbeda dengan program pembiayaan OPD lain karena menargetkan pelaku yang belum memiliki legalitas usaha. Namun rekomendasi Inspektorat soal potensi tumpang tindih mendorong penghentian penyaluran sejak 2017.
Ke depan, DPMK tetap fokus pada penagihan pinjaman lama dan penguatan keterampilan masyarakat melalui pelatihan, sambil menunggu kebijakan lebih lanjut terkait koordinasi antar dinas.
Analis bisnis yang mengulas perkembangan industri, korporasi, dan peluang investasi.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...