Ekonomi

Uang Logam Bertahan di Era Digital: Pedagang Tetap Terima Receh

Bagikan:
Penjual bubur memegang pecahan uang logam yang dikumpulkan dalam plastik

Jakarta, 14 September 2026 — Di tengah arus digitalisasi pembayaran, sejumlah pedagang kecil tetap menerima uang logam dan uang rusak dari pelanggan. Budi, penjual bubur di kawasan Tanah Abang, memilih sistem tunai penuh dan secara konsisten menampung pecahan logam serta uang sobek untuk dihimpun dan ditukar kemudian.

Pedagang kecil tetap terima receh

Budi menceritakan ia sering menerima kembalian berupa kepingan logam 200 rupiah atau bahkan uang kertas yang direkat dengan isolasi. Ia tidak menolak karena menganggap setiap rupiah berharga dan wajar diterima oleh pelaku usaha kecil.

"Sering saya nerima uang recehan dua ratusan, orang bayar bubur, saya tetep terima aja. Masa saya tolak, entar dibilang sombong amat tukang bubur... Saya terima aja logam recehan, saya kumpulin di plastik nih,"

Dia menunjukkan plastik berisi recehan yang dikumpulkan tiap hari. Menurutnya, menolak pembayaran kecil dapat menimbulkan kesan buruk dan merugikan, sementara uang receh itu masih dapat dipakai untuk membeli barang kecil seperti rokok di minimarket.

Praktik menukar receh oleh ibu rumah tangga

Tidak hanya pedagang, konsumen rumah tangga juga menukar recehan. Ibu Dima, yang memiliki dua anak, rutin mengumpulkan pecahan logam untuk ditukar di minimarket. Ia menjelaskan kebiasaan tersebut dilakukan agar anaknya mendapatkan uang kertas yang lebih mudah dibawa dan tidak mudah jatuh.

"Kalo ada kembalian receh logam, aku kumpulin dulu terus kalo udah banyak aku tuker lagi ke mini market, karena aku dapet juga kembalian belanja dari sana,"

Langkah menukarkan di minimarket dianggap praktis karena pedagang ritel sering memberikan kembalian kertas sehingga ibu-ibu bisa mendapatkan uang yang lebih nyaman untuk jajan anak.

Aturan penukaran resmi Bank Indonesia

Bank Indonesia mengatur penukaran uang Rupiah yang rusak atau sobek. Penggantian diberikan sebesar nominal yang diajukan selama memenuhi ketentuan. Penukaran dapat dilakukan secara langsung atau melalui layanan kas keliling setelah melakukan pemesanan.

Untuk memesan layanan kas keliling, masyarakat dapat menggunakan aplikasi resmi Bank Indonesia. Informasi lebih lanjut dan pemesanan dapat diakses melalui pintar.bi.go.id.

"Kerusakan uang yang disebabkan berbagai kondisi tidak serta-merta membuat uang tersebut kehilangan nilainya. Uang yang robek, dimakan rayap, terkena air atau bahkan terbakar tetap dapat diajukan untuk penukaran sepanjang memenuhi ketentuan yang ditetapkan Bank Indonesia,"

Keterangan ini disampaikan oleh Mub'ah Fahrizal, staf kasir Bank Indonesia di Bengkulu, pada 8 September 2026.

Implikasi dan prospek

Fenomena menerima uang logam dan uang rusak menunjukkan dua hal: preferensi pembayaran tunai masih kuat di segmen usaha mikro, dan masyarakat aktif memanfaatkan mekanisme penukaran untuk menjaga nilai uang mereka. Praktik menghimpun receh lalu menukar menjadi solusi pragmatis di tengah transisi digital yang belum sepenuhnya merata.

Ke depan, sosialisasi tentang mekanisme penukaran dan peningkatan akses layanan kas keliling diharapkan memperlancar peredaran rupiah dan mengurangi beban transaksi harian bagi pedagang kecil.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait