Nasional

Wamen Viva Yoga: Transmigrasi Percepat Integrasi Sosial dan Pertumbuhan Ekonomi

Bagikan:
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga berbicara soal integrasi sosial dan potensi ekonomi kawasan transmigrasi

Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menyatakan program transmigrasi bukan hanya memindahkan penduduk, tetapi juga mendorong integrasi sosial dan pemberdayaan ekonomi daerah. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026, saat membahas usulan pembukaan 61 kawasan transmigrasi dari berbagai bupati.

Transmigrasi dorong integrasi sosial

Viva Yoga mengatakan, pembangunan kawasan transmigrasi bertujuan menciptakan keharmonisan antara transmigran dan masyarakat setempat. Ia mencontohkan kondisi di Subulussalam, Aceh, yang menurutnya menunjukkan hubungan yang rukun antara kedua kelompok.

“Saya beberapa waktu lalu menerima Walikota Subulussalam, Aceh, yang menceritakan di sana antara transmigran dan warga lokal hidup rukun dan harmonis,” ujar Viva Yoga.

Potensi komoditas dan dampak ekonomi

Kementerian Transmigrasi melihat kawasan baru sebagai pemicu terbukanya lahan yang sebelumnya tak terkelola. Menurut Viva Yoga, banyak kawasan menunjukkan potensi unggulan seperti padi, sawit, kakao, durian, cengkih, kopi, tebu, serta sektor perikanan dan pariwisata.

“Ada kawasan transmigrasi yang potensi unggulannya berupa padi, sawit, kakao, durian, cengkih, kopi, tebu, sampai sektor perikanan dan pariwisata. Potensi unggulan itu... bahkan sudah ada yang diekspor,” katanya.

Dengan pemanfaatan yang tepat, kawasan tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan nasional, tetapi juga membuka peluang ekspor dan pertumbuhan ekonomi lokal.

Kolaborasi dengan perguruan tinggi dan TEP 2026

Untuk mengoptimalkan potensi daerah, Kementrans menggandeng 10 perguruan tinggi terkemuka. Institusi yang terlibat antara lain:

  • Universitas Indonesia (UI)
  • Institut Pertanian Bogor (IPB)
  • Institut Teknologi Bandung (ITB)
  • Universitas Padjadjaran
  • Universitas Diponegoro
  • Universitas Airlangga
  • Universitas Gadjah Mada (UGM)
  • Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
  • Universitas Brawijaya
  • Universitas Hasanuddin (kerja sama di luar Pulau Jawa)

Dari kerja sama itu lahir Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 yang beranggotakan 1.476 orang. Tim terdiri dari 39 guru besar, 158 doktor, 263 magister, dan 1.016 sarjana yang dikirim ke 53 kawasan transmigrasi.

“Tim ini mempunyai misi untuk merealisasikan hasil dari riset TEP 2025. Jadi beragam potensi unggulan yang ada di daerah, akan mereka tindaklanjuti dalam bentuk model, prototype, maupun kerja praktis,” ujar Viva Yoga.

Dampak: lapangan kerja dan industrialisasi kawasan

Viva Yoga menilai langkah implementasi riset dan model kerja praktis akan membuka peluang industrialisasi di kawasan transmigrasi. Menurutnya, inisiatif ini akan menumbuhkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, sekaligus menambah lapangan kerja.

“Kawasan baru ini tidak hanya menciptakan kesejahteraan masyarakat, namun juga menciptakan lapangan kerja,” ujarnya.

Ke depan, Kementrans berencana menindaklanjuti 61 proposal pembukaan kawasan baru yang diajukan oleh para bupati. Rangkaian program ini diproyeksikan memperkuat integrasi sosial, meningkatkan produktivitas komoditas unggulan, dan mendorong pemerataan pembangunan di wilayah baru.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait