Pefindo: Penerbitan Surat Utang Korporasi Turun Semester I 2026
PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat penerbitan surat utang korporasi pada semester I 2026 masih aktif namun menurun dibandingkan tahun lalu. Pada Rabu, 22 Juli 2026, Pefindo melaporkan total penerbitan mencapai Rp87,35 triliun, turun 3,91% dari semester I 2025. Penurunan itu didorong oleh nilai jatuh tempo yang relatif rendah dan kondisi suku bunga yang tinggi.
Ringkasan penerbitan Semester I 2026
Pefindo mencatat rasio nilai penerbitan terhadap nilai jatuh tempo mencapai 158,2 persen, menunjukkan sebagian besar penerbitan berada di atas nilai yang jatuh tempo. Mayoritas penerbit adalah emiten swasta dengan total penerbitan sebesar Rp62,9 triliun, sementara penerbit yang berafiliasi dengan pemerintah atau BUMN mencatat sekitar Rp24,4 triliun.
Penerbitan surat utang korporasi pada semester I 2026 tercatat sebesar Rp87,35 triliun. Secara tahunan nilainya mengalami penurunan 3,91 persen dibandingkan semester I 2025.
Faktor pemicu penurunan
Suhindarto, Kepala Divisi Riset Pefindo, menyebut beberapa faktor penyebab penurunan. Pertama, nilai surat utang yang jatuh temponya relatif rendah dibandingkan tahun lalu. Kedua, suku bunga yang masih tinggi membuat penerbit lebih selektif dalam menerbitkan instrumen utang.
Artinya ada 58 persen surat utang yang diterbitkan nilainya lebih tinggi dibandingkan nilai jatuh temponya.
Profil peringkat dan tujuan penerbitan
Karena kondisi pasar, mayoritas penerbit memilih instrumen berperingkat tinggi. Sekitar 44,78 persen penerbit memiliki peringkat A, sementara 35,26 persen berperingkat triple A. Dari segi tujuan, penerbitan untuk modal kerja dan refinancing masih mendominasi.
- Modal kerja: Rp44,77 triliun (turun dari Rp56,26 triliun pada semester I 2025)
- Refinancing: Rp23,10 triliun (turun dari Rp31,49 triliun)
- Investasi: Rp19,48 triliun (naik tajam dari Rp3,14 triliun)
Ini berarti meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp3,14 triliun.
Sektor paling aktif menerbitkan
Beberapa sektor menonjol sebagai penerbit terbanyak pada semester I 2026. Urutan tertinggi adalah kehutanan, pulp, dan kertas diikuti oleh sektor lain seperti perbankan dan pertambangan.
- Kehutanan, pulp, dan kertas: Rp12,8 triliun
- Perusahaan induk: Rp10,7 triliun
- Pembiayaan: Rp8,3 triliun
- Perbankan: Rp8,1 triliun
- Pertambangan: Rp7,8 triliun
Obligasi dan sukuk
Penerbitan obligasi korporasi dan sukuk tercatat sebesar Rp80,3 triliun, turun dari Rp90,3 triliun pada semester I 2025. Penurunan ini konsisten dengan tren selektivitas pasar akibat suku bunga tinggi dan komposisi jatuh tempo yang berubah.
Ini merupakan penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp90,3 triliun.
Ke depan, pasar surat utang korporasi kemungkinan tetap berhati-hati. Penerbit akan mempertimbangkan biaya dana dan profil jatuh tempo sebelum menerbitkan instrumen baru. Kondisi suku bunga dan permintaan investor menjadi faktor kunci yang menentukan dinamika penerbitan di sisa 2026.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...