Seni Tradisional Bawa Kedamaian di Era Modern, Pameran di TIM
Pameran Art for Peace di Taman Ismail Marzuki pada Selasa, 18 Agustus 2026 menegaskan peran seni tradisional dalam menghadirkan kebahagiaan dan kedamaian batin di tengah arus digitalisasi. Acara itu dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono. Pameran ini menjadi wadah apresiasi untuk karya lukisan kanvas yang dikerjakan dengan kuas nyata.
Pembukaan pameran dan tujuan
Pembukaan resmi pameran bertujuan memberi ruang bagi seniman lokal menampilkan karya mereka. Acara diposisikan sebagai bentuk apresiasi terhadap kreasi seni konvensional yang kian langka. Penyelenggara berharap pengunjung dapat merasakan ketenangan di luar aspek visual semata.
Nilai estetika lukisan kanvas
Menteri Agus menekankan perbedaan antara karya yang dibuat dengan tangan dan karya digital. Ia menyebut sentuhan pikiran dan perasaan langsung memberi nilai estetika kuat pada lukisan tradisional. Menurutnya, teknik melukis dengan kuas nyata memiliki nilai tinggi dan makin jarang ditemui.
Bagaimana kita menghadirkan kebahagiaan bukan hanya dari sesuatu yang bersifat fisik, tetapi juga menghadirkan kedamaian hati. Sehingga hati kita diliputi ketenangan dan kebahagiaan, bukan sekadar menikmati sesuatu yang dapat dilihat secara langsung.
- Agus Harimurti Yudhoyono
Di tengah dunia yang semakin modern dan digital, lukisan di atas kanvas dengan kuas nyata semakin langka. Karya yang digoreskan langsung dengan hati dan pikiran memiliki nilai tersendiri dibandingkan karya yang dibuat menggunakan kuas digital.
- Agus Harimurti Yudhoyono
Pentingnya pelestarian dan fasilitas
Agus juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus disikapi bijak. Ia menegaskan tidak ada salahnya menerima perkembangan digital sebagai masa depan. Namun, menurutnya, pelestarian media seni konvensional penting agar ruang ekspresi tradisional tidak hilang.
Tidak ada salahnya yang serba digital itu bagus dan memang menjadi masa depan. Tapi yang begini-begini tolong tidak dilupakan dan justru dilestarikan.
- Agus Harimurti Yudhoyono
Untuk itu Agus meminta fasilitas dan kesempatan berkarya disediakan secara nyata. Pameran seperti ini dianggap memberi 'ruang' fisik dan kesempatan bagi seniman untuk menyampaikan pesan dan narasi positif.
Ini sesuatu yang perlu terus kita promosikan dan juga berikan ruang, literally ruang tempat seperti ini. Tapi juga ruang kesempatan untuk terus berkarya dan menyampaikan pesan-pesan, narasi yang juga baik untuk kita dengarkan.
- Agus Harimurti Yudhoyono
Implikasi ke depan
Pameran menyoroti kebutuhan seimbang antara inovasi digital dan pelestarian tradisi. Jika mendapat dukungan fasilitas dan ruang, seni kanvas tradisional berpotensi terus menyumbang nilai budaya dan ketenangan batin bagi publik. Langkah promosi dan kesempatan berkarya menjadi kunci agar warisan estetika ini tetap hidup.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Mendag: Penilaian 'Excess Capacity' Harus Berdasarkan Bukti
Mendag Budi Santoso minta penilaian 'excess capacity' dibuat berbasis bukti sektoral, dibahas dalam G20 TMM...
Pakar: Gugatan Syarat Pendidikan Wapres Seharusnya Ditolak MK
Pakar hukum menilai gugatan soal syarat pendidikan Wapres Gibran seharusnya tak dapat diterima MK karena sub...
Olivia Zalianty Harap Lagu Pancasila Perkuat Nilai Kebangsaan
Olivia Zalianty merilis lagu "Pancasila" untuk membantu masyarakat meresapi nilai negara melalui musik yang...
Kekeringan Meteorologis vs Hidrologis: Apa Bedanya?
BMKG jelaskan perbedaan kekeringan meteorologis dan hidrologis; 25 wilayah Jatim minta bantuan air hingga aw...
Kemenperin Siapkan SDM Kelola Pusat Logistik Industri Bambu
Kemenperin menyiapkan SDM lewat AKB 2026 untuk mengelola Pusat Logistik Industri Bambu, memperkuat rantai pa...
HUT ke-81 TNI: Pengendara Diminta Hindari Kawasan Cilangkap
Pengendara diimbau menghindari kawasan Mabes TNI Cilangkap pada Senin 5 Okt 2026 mulai pukul 06.00 WIB karen...