Minat Rendah di SD, Pendaftar Sekolah Rakyat Ngawi Masih Sedikit
Ngawi — Proses penjaringan calon siswa untuk program Sekolah Rakyat (SR) Kabupaten Ngawi masih berlangsung. Hingga Senin (22/6/2026) tercatat 90 calon siswa SMP, 93 calon siswa SMA, dan hanya 3 calon siswa SD. Penetapan siswa SR dijadwalkan pada 23 Juni 2026.
Data pendaftar dan jadwal penetapan
Jumlah pendaftar berbeda signifikan antar jenjang. SMP dan SMA relatif ramai, sementara SD justru minim peminat. Jadwal penetapan peserta yang telah ditetapkan diperkirakan menentukan komposisi final penerima manfaat program ini.
Tantangan: rendahnya minat orang tua
Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono menyatakan rendahnya minat pendaftar SD menjadi salah satu tantangan utama pelaksanaan SR. Menurutnya, kekhawatiran orang tua soal sistem tinggal di asrama membuat mereka enggan mendaftarkan anak usia SD.
"Memang kendalanya di masyarakat, dari hasil rundingan Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, dan Kementerian, untuk SD ini karena anak-anak masih kecil,"
Bupati Ony menambahkan sejumlah orang tua merasa menyerahkan anak ke SR mirip menitipkan anak di pondok, sehingga masih terjadi tarik ulur.
Solusi: usulan pengisian dari panti asuhan
Pemerintah Kabupaten Ngawi menyiapkan alternatif jika kuota SD sulit terpenuhi. Salah satunya adalah mengusulkan agar slot SD SR diisi oleh anak-anak dari panti asuhan lokal.
"Kita coba mekanisme kemarin, kalau kemudian diisi oleh anak-anak kita di panti asuhan yang ada di Kabupaten Ngawi, apakah itu diperkenankan. Kalau diperkenankan kita akan mengajukan izin kepada Kementerian Sosial,"
Bupati menjelaskan usulan ini muncul karena petunjuk teknis SR saat ini menargetkan sasaran kelompok desil 1 dan desil 2. Setelah sosialisasi, penerimaan calon peserta dari kelompok tersebut baru mencapai tiga orang untuk jenjang SD.
Pertimbangan kebijakan dan tujuan program
Bupati Ony mengingatkan bahwa memaksakan kuota tanpa mempertimbangkan kesiapan anak justru akan mengurangi efektivitas program. Ia menilai anak panti asuhan lebih sesuai mengikuti pola asrama karena membutuhkan dukungan pendidikan dan pengasuhan.
"Kalau dari panti asuhan kan beda. Mereka memang tidak memiliki orang tua, mungkin hanya ibu atau ayah saja. Ketika kita komunikasikan dengan teman-teman di panti asuhan juga lebih mudah karena di SR tempatnya representatif, pendidikannya dapat, dan seterusnya,"
Langkah selanjutnya adalah menunggu keputusan teknis dari kementerian terkait dan kemungkinan pengajuan izin untuk memasukkan anak panti asuhan sebagai peserta SD SR. Keputusan ini akan menentukan kelanjutan program dan cakupan sasaran bantuan pendidikan di Ngawi.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
ASDP dan Pemkab Banyuwangi Bahas Solusi Antrean Pelabuhan Ketapang
ASDP dan Pemkab Banyuwangi bersepakat percepat peningkatan dermaga, perluasan buffer zone, dan kapal bantuan...
AirNav Bantu Kampung Seling: Turbin PLTMH & Fasilitas Dasar
AirNav dan Pemkab Banyuwangi serahkan turbin PLTMH, musala, ruang kelas, dan sanitasi untuk Kampung Seling p...
DPC PDI Perjuangan Kediri Gelar Tahlil 7 Hari untuk Guruh
DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kediri menggelar tahlil tujuh hari untuk Guruh Soekarnoputra, menekankan pentin...
Pemkab Jember Atur Jam Operasional untuk Redam Konflik Pasar Tanjung
Pemkab Jember dan DPRD setujui pengaturan jam operasional Pasar Tanjung sementara menunggu revitalisasi dan...
Warga Surabaya Keluhkan Data Desil Tak Sesuai, DPRD Minta Pendataan
Warga Sukolilo mengeluh peringkat desil tak sesuai; DPRD minta RT/RW mendata warga untuk pendampingan pengaj...
Ratusan Warga Gelar Tahlil untuk Guruh Soekarnoputra di Bangkalan
Ratusan kader dan warga Bangkalan menggelar doa bersama dan tahlil Jumat malam untuk mengenang tujuh hari wa...