Sejarah dan Makna Hari Tanpa Tembakau Sedunia 31 Mei
Hari Tanpa Tembakau Sedunia diperingati setiap 31 Mei untuk mengajak perokok berpuasa dari tembakau selama 24 jam. Peringatan ini digagas oleh World Health Organization (WHO) sejak akhir 1980-an untuk mendorong upaya berhenti merokok dan mengurangi dampak kesehatan publik.
Asal-usul dan penetapan tanggal
Inisiatif peringatan ini berawal pada 1987 melalui resolusi WHO yang menyerukan hari tanpa merokok. Setahun kemudian, Majelis Kesehatan Dunia menetapkan 31 Mei sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Sejak itu WHO menetapkan tema tahunan untuk menarik perhatian publik dan pembuat kebijakan.
Kronologi penting
- 1987 – WHO mengesahkan Resolusi WHA40.38, menyerukan 7 April 1988 sebagai hari tidak merokok dunia, bertepatan ulang tahun WHO ke-40.
- 1988 – Majelis Kesehatan Dunia (Resolusi WHA42.19) menetapkan 31 Mei sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia setiap tahun.
- 1998 – WHO mendirikan Tobacco Free Initiative (TFI) untuk memusatkan upaya internasional pengendalian tembakau dan mendukung kebijakan publik terkait.
- 2003 – Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (FCTC) mulai diberlakukan sebagai traktat kesehatan publik global.
- 2008 – Pada malam peringatan, WHO menyerukan larangan terhadap berbagai bentuk iklan, promosi, dan sponsor produk tembakau guna mengurangi paparan publik.
Angka kematian dan tujuan kampanye
WHO memperkirakan kebiasaan merokok menyebabkan sekitar 5,4 juta kematian setiap tahun di dunia. Tujuan Hari Tanpa Tembakau adalah mendorong perokok mencoba berhenti dan mengajak masyarakat serta pembuat kebijakan mendukung regulasi yang efektif.
Industri rokok dan risiko bagi generasi muda
Menurut pengamatan WHO, industri rokok berusaha meremajakan pasarnya. Mereka menargetkan kaum muda melalui unsur yang menarik seperti film, musik, olahraga, internet, papan reklame, dan majalah.
Penelitian menunjukkan semakin sering remaja terpapar promosi rokok, semakin besar kemungkinan mereka menjadi perokok. Oleh karena itu kampanye dan kebijakan pengendalian tembakau menekankan perlindungan anak dan remaja dari pemasaran tersebut.
Implikasi dan langkah ke depan
Peringatan 31 Mei bukan sekadar seruan satu hari. Ini bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat kebijakan publik, menyokong layanan berhenti merokok, dan menutup celah pemasaran industri tembakau. Keberhasilan bergantung pada kebijakan pemerintah, dukungan organisasi kesehatan, dan kesadaran masyarakat.
Berita Terkait
Pusing Usai Makan Daging Saat Iduladha: Penyebab & Pencegahan
Pusing setelah makan daging sapi saat Iduladha sering terjadi akibat pencernaan berat, tiramin, alergi, atau...
Cegah Asam Urat Saat Iduladha: Atur Konsumsi Daging
Saat Iduladha, batasi daging merah dan pilih protein rendah purin, atur porsi, serta perbanyak cairan untuk...
Perut Begah Usai Iduladha? 3 Teh yang Direkomendasikan
Setelah makan daging saat Iduladha, teh Pu'er, Oolong, dan krisan direkomendasikan meredakan perut begah; mi...
Tips Menetralisir Dampak Konsumsi Daging Berlebih Saat Iduladha
Banyak makan daging saat Iduladha bisa sebabkan begah dan gangguan pencernaan. Simak tips menyeimbangkan asu...
Plastik Hitam Tak Disarankan untuk Bungkus Daging Kurban
Plastik hitam sering dipakai bungkus daging kurban saat Iduladha, namun berisiko karena bukan food grade dan...
Ahli Gizi: Waspadai Bahaya Konsumsi Daging Berlebihan saat Iduladha
Ahli gizi mengingatkan agar tidak berlebihan mengonsumsi daging kurban saat Iduladha; utamakan pola makan se...