IHSG Melemah 132,32 Poin, Sentimen Global Bayangi Pasar
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah pada penutupan Jumat, 24 Juli 2026, ditutup di 6.182,99 setelah terpukul sentimen global. Pelemahan tercatat sebesar 132,32 poin (2,1%)
Ringkasan perdagangan
Perdagangan hari ini menampilkan aksi jual yang meluas. IHSG sempat menyentuh terendah di 6.159,14 setelah dibuka di zona merah pada 6.266,97.
| Indikator | Angka |
|---|---|
| Penutupan | 6.182,99 |
| Perubahan | −132,32 poin (−2,1%) |
| Terendah | 6.159,14 |
| Pembukaan | 6.266,97 |
| Jumlah saham melemah/menguat/stagnan | 586 / 93 / 117 |
| Nilai transaksi | Rp16,79 triliun |
| Volume perdagangan | 36,69 miliar lembar |
| Frekuensi | lebih dari 2,2 juta kali |
Sentimen global tekan pasar
Tim analis Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut pelemahan IHSG sejalan dengan mayoritas bursa Asia. Pelaku pasar mengambil posisi hati-hati karena meningkatnya ketidakpastian global.
"Perang yang semakin memanas dan kebijakan tarif dagang baru Amerika Serikat meningkatkan ketidakpastian ekonomi global. Kondisi tersebut diproyeksikan menekan pertumbuhan ekonomi sekaligus memicu inflasi apabila harga energi tetap tinggi,"
Pilarmas menilai lonjakan harga minyak mentah Brent yang menembus US$100 per barel turut memicu kekhawatiran. Kenaikan harga energi dipicu oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah, termasuk serangan Houthi terhadap kapal tanker Saudi.
Implikasi kebijakan dan ekonomi domestik
Selain risiko geopolitik, kebijakan tarif impor baru AS terhadap puluhan mitra dagang besar juga menambah tekanan. Menurut Pilarmas, kebijakan itu berpotensi mengganggu rantai pasok global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Di dalam negeri, kenaikan harga minyak dunia berpotensi memperbesar beban subsidi energi. Pilarmas memperingatkan kondisi ini dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah, mendorong inflasi, dan meningkatkan risiko kenaikan suku bunga acuan. Dampak lanjutan kemungkinan dirasakan pada nilai tukar rupiah, neraca perdagangan, dan daya beli masyarakat.
Prospek ke depan
Pasar diperkirakan masih bergerak berhati-hati selama ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan global belum mereda. Investor akan terus memantau perkembangan harga energi, keputusan kebijakan suku bunga, dan implikasi tarif dagang AS sebagai faktor penentu arah IHSG dalam beberapa pekan ke depan.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Bunga Utang Capai Rp394,1 T, APBN Agustus 2026 Defisit
Pembayaran bunga utang mencapai Rp394,1 triliun hingga Agustus 2026, membuat APBN tercatat defisit Rp240,1 t...
Pembiayaan Utang Capai Rp506 T hingga Agustus 2026
Realisasi pembiayaan utang neto Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026, setara 60,8% dari target APBN 2026; SB...
IHSG Melemah 0,33% ke 6.441,15 pada Penutupan Jumat
IHSG turun 0,33% ke 6.441,15 pada penutupan Jumat; volume 32,6 miliar saham dan nilai transaksi Rp19,2 trili...
Penerbitan SBN 2026 Tetap Sesuai Rencana, Defisit APBN 2,85%
Kemenkeu: penerbitan SBN hingga akhir 2026 on track untuk penuhi pembiayaan dan jaga outlook defisit APBN 2,...
Sharp Indonesia Raih Dua Penghargaan PR Pilihan Jurnalis 2026
Sharp Indonesia dan Andry Adi Utomo meraih dua penghargaan Journalists’ Choice di Indonesia PR of the Year 2...
AXA dirikan AXA Sharia Life untuk perluas proteksi syariah
AXA mendirikan AXA Sharia Life Insurance dan mendapat izin OJK untuk memperkuat layanan asuransi syariah di...