Mengenal Ruwatan Bulan Suro: Makna dan Siapa Perlu Diruwat
Ruwatan Akbar akan digelar kembali di Taman Mini Indonesia Indah pada Minggu, 28 Juni 2026, menampilkan kirab budaya, pagelaran wayang, dan prosesi siraman sebagai simbol penyucian diri. Acara ini menegaskan tradisi Ruwatan Bulan Suro yang masih dipraktikkan masyarakat Jawa sebagai upaya tolak bala dan permohonan keselamatan.
Asal-usul dan makna ruwatan
Ruwatan berasal dari kata Jawa ruwat atau luwar yang bermakna dilepaskan atau dibebaskan. Secara tradisi, ruwatan dipandang sebagai upacara penyucian untuk membebaskan seseorang dari nasib sial atau gangguan yang diyakini dapat mengancam kehidupan.
Kepercayaan ini berakar pada kisah pewayangan tentang Batara Kala, sosok yang dipercaya memangsa mereka yang termasuk golongan wong sukerta — orang yang rentan terhadap malapetaka. Dari keyakinan inilah tradisi ruwatan berkembang sebagai permohonan perlindungan.
Siapa saja yang dianggap perlu diruwat?
Dalam naskah tradisional seperti Ruwat Murwakala, terdapat beberapa kategori orang yang disebut wong sukerta dan dianggap perlu mengikuti upacara ruwatan. Kategori ini meliputi aspek waktu kelahiran, posisi dalam struktur keluarga, dan kondisi fisik.
Kelahiran — waktu simbolik
- Julung wangi — lahir saat matahari terbit
- Julung sungsang — lahir saat matahari tinggi
- Julung sarab — lahir saat matahari terbenam
- Julung pujut — lahir saat maghrib
- Marguna — lahir di perjalanan
Struktur keluarga — posisi bersaudara
- Ontak anting — anak tunggal laki-laki
- Nunggak klapa — bersaudara banyak, laki-laki di posisi tengah
- Gendana-gendini — dua bersaudara, satu laki-laki dan satu perempuan
- Uger-uger lawang — dua bersaudara, keduanya laki-laki
- Sendang kaapit pancuran — tiga bersaudara, perempuan di tengah
- Pancuran kaapit sendang — tiga bersaudara, laki-laki di tengah
- Sarimpi — empat bersaudara, semuanya perempuan
- Seramba — empat bersaudara, semuanya laki-laki
- Pandawa — lima bersaudara, semuanya laki-laki
- Pendawi — lima bersaudara, semuanya perempuan
- Pipilan — lima bersaudara, satu laki-laki dan empat perempuan
Kondisi fisik — ciri khusus
- Milas lewa — berkulit dua warna
- Berkulit albino
- Dengkek — dada bengkok mengembung ke depan
- Wujil — terlahir kecil dan tidak tumbuh besar
- Cebol — bentuk tubuh kecil (cebol wujil)
Rangkaian upacara di TMII
Ruwatan Akbar yang digelar di TMII menggabungkan elemen ritual dan kebudayaan. Selain prosesi siraman sebagai lambang penyucian, acara memuat kirab budaya dan pagelaran wayang yang merepresentasikan kisah-kisah pewayangan terkait asal-usul ruwatan.
Pelaksanaan tersebut bertujuan mempertahankan nilai tradisi sekaligus memberi ruang bagi masyarakat untuk berdoa dan memohon perlindungan bersama.
Secara umum, tradisi ruwatan berfungsi sebagai mekanisme sosial dan spiritual untuk mengatasi ketakutan kolektif terhadap nasib buruk. Keberlangsungan upacara ini menunjukkan bagaimana warisan budaya tetap hidup dan relevan dalam kehidupan masyarakat Jawa modern.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Merah Putih Menghias Kampung: Tradisi Gotong Royong Agustusan
Warga kampung memasang bendera, umbul-umbul, dan gapura menjelang HUT RI melalui gotong royong untuk menyema...
Kampung Tugu: Warisan Portugis yang Bertahan di Jakarta Utara
Kampung Tugu di Cilincing mempertahankan warisan Portugis sejak abad ke-17 lewat musik keroncong, bahasa kre...
Rengasdengklok: Golongan Tua vs Muda yang Mempercepat Proklamasi
Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945 menegaskan perbedaan antara golongan tua dan muda yang akhirny...
6 Agustus: Hiroshima, Apresiasi Petani, Sailor Moon, dan Hari Balon
6 Agustus 2026 menampilkan empat peringatan: Hiroshima, Hari Apresiasi Petani, Sailor Moon Day, dan Hari Bal...
Bu Dar Mortir, Patriot Perempuan Penopang Pejuang Surabaya 1945
Darijah "Bu Dar Mortir" mengelola dapur umum di Jalan Pacar Surabaya untuk mendukung pejuang saat Pertempura...
MLB Perkuat Pelestarian Bahasa Lampung lewat Kamus dan Kursus
MLB memperkuat pelestarian Bahasa Lampung dengan kamus dialek, kursus daring, dan program budaya usai penguk...