Kampung Tugu: Warisan Portugis yang Bertahan di Jakarta Utara
Kampung Tugu di Cilincing, Jakarta Utara, menyimpan jejak budaya Portugis yang hidup selama berabad-abad. Permukiman ini berdiri sejak abad ke-17 dan menjadi wadah akulturasi antara warga keturunan Portugis dan masyarakat setempat. Hingga kini, tradisi, bahasa, dan kesenian khas terus diwariskan secara turun-temurun.
Asal-usul dan sejarah singkat
Orang Portugis pertama tiba di wilayah yang kini dikenal sebagai Kampung Tugu pada abad ke-17. Mereka datang sebagai tawanan dan komunitas Kristen dari Malaka, kemudian menetap setelah memperoleh lahan dari VOC. Kehidupan komunitas yang relatif terpisah membantu menjaga identitas budaya mereka selama berabad-abad.
Kesenian: Keroncong Tugu
Salah satu warisan paling menonjol adalah musik Keroncong Tugu. Musik ini lahir dari perpaduan melodi Portugis dan elemen lokal sehingga menghasilkan karakter bunyi yang khas. Keroncong menjadi sarana ekspresi budaya dan kerap tampil dalam kegiatan komunitas.
Bahasa dan penamaan keluarga
Selama beberapa abad, warga Kampung Tugu menggunakan bahasa Kreol Portugis dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan bahasa itu kemudian berangsur digantikan oleh bahasa Indonesia modern, namun sebagian kosakata dan nama keluarga keturunan Portugis tetap bertahan hingga kini.
Gereja dan status cagar budaya
Pengaruh Portugis juga terlihat pada keberadaan gereja di kawasan itu, yang kini berstatus sebagai bangunan cagar budaya. Rumah ibadah ini memiliki nilai sejarah dan arsitektur yang tinggi, serta menjadi salah satu titik penting dalam pelestarian identitas komunitas.
Tradisi Rabo-Rabo dan Mandi-Mandi
Dua tradisi utama yang masih dipertahankan adalah Rabo-Rabo dan Mandi-Mandi. Keduanya dilaksanakan pada awal tahun sebagai simbol kebersamaan, syukur, dan saling memaafkan.
- Rabo-Rabo: warga saling mengunjungi rumah kerabat sambil bermain musik keroncong dan bersalaman.
- Mandi-Mandi: tradisi saling mencoreng wajah dengan bedak dingin yang melambangkan penyucian diri.
Pelestarian identitas dan prospek ke depan
Jejak Portugis juga tersisa pada nama keluarga, cerita leluhur, dan kebiasaan masyarakat setempat. Pemeliharaan tradisi ini bergantung pada kesadaran komunitas dan dukungan untuk mempertahankan bangunan bersejarah serta praktik budaya. Jika dirawat, Kampung Tugu tetap berpeluang menjadi contoh akulturasi dan warisan budaya yang hidup di tengah kota besar.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Lebih dari 50% Tiket Konser Ye di Jakarta Dibeli Fans Asing
Lebih dari 52% tiket konser Ye di Jakarta ludes dibeli fans luar negeri dalam 24 jam pertama; potensi dorong...
Doulos Hope Tiba di Jakarta: Pameran Buku Terapung Sebulan
Kapal pameran Doulos Hope singgah di Jakarta 16 Sept–11 Okt 2026 dengan lebih dari 2.000 judul; tiket Rp15.0...
Indonesia Dorong Penyebaran Investasi Pariwisata di Luar Jakarta–Bali
Pemerintah mendorong penyebaran investasi pariwisata dari Jakarta dan Bali ke 13 destinasi prioritas dan 10...
Kolintang Minahasa Bawa Diplomasi Budaya Indonesia ke UNESCO Paris
Kolintang Rhythm of Minahasa tampil di UNESCO Paris (27 Sept-3 Okt 2026) untuk misi diplomasi budaya dan mem...
Fadli Zon Umumkan Revitalisasi Galeri Nasional Jakarta
Menbud Fadli Zon mengumumkan Galeri Nasional Jakarta akan direvitalisasi setelah pameran Nasirun pada 12 Sep...
Hari Programmer Sedunia: Sejarah dan Makna 13 September
Hari Programmer diperingati tiap 13 September karena hari ke-256 merepresentasikan satu byte, simbol penting...