Bu Dar Mortir, Patriot Perempuan Penopang Pejuang Surabaya 1945
Darijah Soerodikoesoemo, atau dikenal sebagai Bu Dar Mortir, adalah pejuang perempuan yang berperan penting dalam Pertempuran Surabaya 1945. Ia mengelola sebuah dapur umum di rumahnya di Jalan Pacar Nomor 1 Surabaya untuk memasok makanan dan merawat pejuang yang terluka, serta mengoordinasikan puluhan dapur lain guna mendukung perjuangan di garis depan.
Biografi singkat
Bu Dar lahir di Purwokerto pada 1908 dan mengabdikan dirinya pada upaya mempertahankan kemerdekaan. Rumahnya berubah fungsi menjadi pusat logistik ketika pertempuran berkecamuk. Dari tempat itu, pasokan makanan disiapkan dan didistribusikan ke para pejuang di berbagai lokasi.
Dapur umum dan peran logistik
Selain memasak, Bu Dar merawat para pejuang yang terluka dan membantu koordinasi dapur-dapur lapangan. Ia terlibat dalam pengorganisasian sekitar 100 dapur umum yang tersebar di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo. Peran tersebut menunjukkan bahwa dukungan logistik menjadi pilar penting dalam mempertahankan posisi pejuang di garis depan.
Pengorbanan nyata untuk keberlangsungan dapur
Ketika pejuang terpaksa mundur ke Jombang, Bu Dar melakukan tindakan ekstrimis demi mempertahankan layanan dapur. Ia menggadaikan gelang dan kalung emasnya untuk membeli bahan makanan. Tindakan ini memastikan dapur umum tetap melayani kebutuhan makan para pejuang dalam kondisi sempit.
Identitas dan julukan
Di kalangan pejuang, Darijah disapa "Bu Dar Mortir". Julukan itu melekat karena kebiasaan uniknya: selalu menyelipkan susur (tembakau kunyah) di mulutnya saat bekerja. Sikap berani dan ketegasannya membuatnya dihormati banyak pejuang sebagai figur yang dapat diandalkan.
Peran kemanusiaan dan makna sejarah
Meski tidak memiliki anak kandung, Bu Dar dikenal sebagai sosok keibuan bagi para pejuang. Perhatian dan perawatannya membuat banyak pejuang menganggapnya sebagai ibu sendiri. Kisahnya menegaskan bahwa perjuangan kemerdekaan bukan hanya soal medan perang, tetapi juga dukungan logistik dan kemanusiaan yang menyokong keberlangsungan perlawanan.
Warisan Bu Dar Mortir tetap dikenang sebagai bagian penting sejarah Pertempuran Surabaya 1945, mengingatkan publik akan kontribusi signifikan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Lebih dari 50% Tiket Konser Ye di Jakarta Dibeli Fans Asing
Lebih dari 52% tiket konser Ye di Jakarta ludes dibeli fans luar negeri dalam 24 jam pertama; potensi dorong...
Doulos Hope Tiba di Jakarta: Pameran Buku Terapung Sebulan
Kapal pameran Doulos Hope singgah di Jakarta 16 Sept–11 Okt 2026 dengan lebih dari 2.000 judul; tiket Rp15.0...
Indonesia Dorong Penyebaran Investasi Pariwisata di Luar Jakarta–Bali
Pemerintah mendorong penyebaran investasi pariwisata dari Jakarta dan Bali ke 13 destinasi prioritas dan 10...
Kolintang Minahasa Bawa Diplomasi Budaya Indonesia ke UNESCO Paris
Kolintang Rhythm of Minahasa tampil di UNESCO Paris (27 Sept-3 Okt 2026) untuk misi diplomasi budaya dan mem...
Fadli Zon Umumkan Revitalisasi Galeri Nasional Jakarta
Menbud Fadli Zon mengumumkan Galeri Nasional Jakarta akan direvitalisasi setelah pameran Nasirun pada 12 Sep...
Hari Programmer Sedunia: Sejarah dan Makna 13 September
Hari Programmer diperingati tiap 13 September karena hari ke-256 merepresentasikan satu byte, simbol penting...