Jamasan Pusaka pada 1 Suro: Makna dan Tahapan Prosesi
Jamasan pusaka adalah ritual pembersihan benda pusaka, terutama keris, yang digelar setiap 1 Suro dalam penanggalan Jawa. Prosesi ini berlangsung sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur dan pelepasan makna spiritual benda pusaka.
Apa itu Jamasan Pusaka?
Jamasan pusaka berasal dari kata Jawa jamasan yang berarti cuci atau penyucian, serta pusaka yang merujuk pada benda-benda keramat. Ritual ini tak hanya membersihkan fisik, tetapi juga menyucikan nilai-nilai yang melekat pada benda tersebut. Oleh karena itu, perawatan keris dilakukan secara khusus dan sakral.
Ubo rampe dan makna ritual
Rangkaian ubo rampe menjadi bagian penting prosesi. Ubo rampe umumnya mencakup penggunaan wewangian berupa dupa dan minyak, air kelapa, serta bunga-bungaan seperti kantil, mawar, dan melati. Selain itu, masyarakat kerap menggelar tumpengan dan doa bersama sebagai ungkapan syukur.
Tumpengan dan doa bersama juga berfungsi sebagai pengingat nilai moral. Membersihkan keris kerap dilihat sebagai metafora menyucikan diri dan mengingatkan pada kesabaran, ketelitian, dan ketekunan yang tercermin dari proses pembuatan keris.
Tahapan penting prosesi
Prosesi jamasan pusaka biasanya mengikuti beberapa tahapan ritual. Salah satu tahapan yang umum dilakukan adalah:
-
Susilaning Nglolos Dhuwung
Pada tahap ini, penjamas atau perawat pusaka memberi penghormatan kepada pembuat dan pemilik pusaka. Selanjutnya dilakukan mutih, yaitu pembersihan awal untuk menghilangkan kotoran dan karat.
Pembersihan dilakukan dengan campuran abu arang kayu jati, air perasan jeruk nipis, dan deterjen. Pusaka direndam dalam larutan khusus yang mengandung bahan-bahan untuk menonjolkan pamor keris.
Tradisi menyebutkan penggunaan batu warangan yang mengandung unsur seperti arsenik untuk menampilkan pamor. Pada praktik berikutnya, air perasan jeruk nipis dan larutan warangan digosokkan secara searah menggunakan kuas.
Setelah itu keris dicuci dengan sabun dan air mengalir agar sisa asam hilang. Pusaka dikeringkan dengan kain, kemudian melalui proses keprok dan dijemur di bawah sinar matahari. Ketika kering, permukaan diberi lapisan warangan berulang kali, lalu diberi minyak dan wewangian sari mawar, melati, atau cendana sebagai sentuhan akhir.
Nilai filosofi dan pelestarian
Keris mengandung banyak elemen simbolis, mulai dari gagang hingga bilah, yang masing-masing menyimpan cerita kehidupan. Karena itu, jamasan pusaka bukan sekadar ritual teknis, melainkan praktik budaya yang dihormati dan dilestarikan.
Ke depan, pelestarian ritual ini penting untuk menjaga identitas budaya dan mentransmisikan nilai-nilai tradisi kepada generasi berikutnya.
Berita Terkait
Wamen PPPA Dorong Pemanfaatan Potensi Budaya dan Pangan Lokal NTT
Wamen PPPA dorong pemanfaatan pangan, bambu, dan tenun NTT sebagai sumber ekonomi berkelanjutan dan ketahana...
95% Penenun di NTT Mayoritas Perempuan, Menopang Ekonomi Keluarga
Sekitar 95% pelaku tenun di NTT adalah perempuan yang menjadi penopang ekonomi keluarga, kata Ketua TP PKK N...
Weaving Wonders: Tenun NTT Dorong Ekonomi Kreatif
Pameran Weaving Wonders (14-27 Juni 2026) angkat tenun NTT untuk dorong ekonomi kreatif lewat jalur tenun da...
12 Juni: Hari Menentang Pekerja Anak dan Loving Day
12 Juni diperingati sebagai Hari Menentang Pekerja Anak dan Loving Day yang menyorot perlindungan anak serta...
Bahasa Daerah Terancam, KSBN Ajak Masyarakat Pelihara Warisan Budaya
KSBN mengingatkan ancaman punah pada bahasa daerah dan mengajak masyarakat aktif melestarikan sekitar 800 ba...
Sekolah Kunci Pelestarian Budaya Indonesia
KSBN dorong pendidikan budaya sejak usia dini lewat kerja sama kementerian dan program seperti lomba dongeng...