Pertumbuhan Triwulan II-2026: Indonesia Butuh Mesin Pertumbuhan Baru
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 tercatat 5,29 persen (YoY), namun melambat dari 5,61 persen pada triwulan I-2026. Anggota Komisi XI DPR RI, Amin Ak, menilai angka itu menunjukkan daya tahan ekonomi di tengah ketidakpastian global, tetapi juga menyingkap masalah struktural yang perlu diatasi agar pertumbuhan lebih stabil dan berkelanjutan.
Pertumbuhan dan data utama
Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), yakni lebih dari 54 persen. Pada triwulan I-2026 konsumsi terdorong oleh momentum Ramadan, Idulfitri, dan pencairan Tunjangan Hari Raya (THR), sehingga angka pertumbuhan lebih tinggi sebelum kembali melambat pada triwulan II.
Di sisi lain, belanja pemerintah mengalami perlambatan signifikan, turun dari 21,81 persen menjadi 15,97 persen, sementara investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tercatat meningkat 6,87 persen, capaian tertinggi dalam setahun terakhir.
Penyebab perlambatan
Amin menekankan perlambatan triwulan II bukanlah sinyal krisis, melainkan petunjuk adanya persoalan struktural. Menurutnya, ketergantungan pada konsumsi rumah tangga membuat laju ekonomi rentan terhadap faktor musiman.
“Penurunan ini bukanlah sinyal krisis, melainkan menunjukkan bahwa struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menghadapi persoalan mendasar,”
Kajian LPEM FEB Universitas Indonesia turut mencatat beberapa faktor yang mempengaruhi perlambatan, antara lain berakhirnya efek Ramadan dan Idulfitri, melemahnya konsumsi, tingginya harga energi, pelemahan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya biaya produksi. Selain itu, Amin menyebutkan daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah, mengalami tekanan.
“Selama konsumsi rumah tangga tetap menjadi mesin utama, perekonomian nasional akan terus naik-turun mengikuti musim. Melonjak saat ada momen belanja besar, lalu melambat begitu momentum tersebut berakhir,”
Solusi dan rekomendasi
Amin mendorong pergeseran fokus dari stimulus konsumsi ke penguatan investasi produktif, pengembangan sektor manufaktur, hilirisasi industri, dan ekspor bernilai tambah. Ia melihat peningkatan PMTB sebagai sinyal positif bahwa kepercayaan investor masih ada.
“Indonesia membutuhkan fondasi pertumbuhan yang lebih seimbang, yaitu konsumsi yang kuat, investasi yang produktif, industri yang kompetitif, dan ekspor yang bernilai tambah,”
Rekomendasi kebijakan yang disorot termasuk:
- Percepatan realisasi investasi produktif dan insentif untuk industri padat karya;
- Penguatan sektor manufaktur dan program hilirisasi untuk menambah nilai ekspor;
- Reformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas investasi jangka panjang.
Prospek ke depan
Tanpa peningkatan produktivitas dan transformasi industri yang konsisten, Amin memperingatkan pertumbuhan sulit melampaui kisaran 5 persen. Untuk mencapai target negara berpendapatan tinggi menuju Indonesia Emas 2045, diperlukan kombinasi konsumsi, investasi, dan ekspor yang lebih seimbang.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Grab Luncurkan Group Ride: Berbagi Ongkos hingga 50%
Grab meluncurkan fitur Group Ride sejak April 2026 untuk atur perjalanan bersama lewat satu pemesanan, denga...
Mobilitas Kereta Api Sumatra Capai 11,34 Juta Penumpang
KAI mencatat 11.342.350 pergerakan penumpang di Sumatra (Jan–Sep 2026), naik 12,02% dibandingkan 2025.
Kemenko Hilirisasi dan Energi Diharap Percepat Transisi Energi
Imaduddin Abdullah menilai pembentukan Kemenko Hilirisasi dan Energi percepat transisi energi, hilirisasi, d...
Hilirisasi Nikel Dorong PNBP Capai Rp21 Triliun
Hilirisasi nikel mendorong ekspor USD6,54 miliar dan PNBP mencapai Rp21 triliun hingga 31 Agustus 2026, namu...
Harga Emas Pekan Depan Diprediksi Fluktuatif, Waspada Saat Beli
Harga emas dunia diperkirakan berfluktuasi tajam pekan depan karena pengaruh indeks dolar AS dan harga minya...
Indonesia Kuasai 0,9% Pasar Ekspor Bambu, Kemenperin Dorong Penguatan Hulu
Kemenperin sebut Indonesia kuasai 0,9% pasar ekspor bambu global; AKB 2026 digelar untuk perkuat pasokan dan...