Tradisi 1 Muharram di Pulau Jawa: Dari Mubeng Beteng hingga Grebeg
1 Muharram atau Tahun Baru Islam di Pulau Jawa disambut lewat beragam tradisi lokal yang merefleksikan akulturasi nilai Islam dan budaya Jawa. Perayaan ini berlangsung setiap tahun pada 1 Muharram di berbagai daerah, melibatkan ritual introspeksi, penyucian, doa, dan ungkapan syukur.
Berikut rangkaian tradisi yang lazim digelar di sejumlah daerah di Pulau Jawa:
- Mubeng Beteng dan Tapa Bisu (Yogyakarta)
- Jamasan Pusaka dan tradisi Suro (Surakarta)
- Larung kepala kerbau di Pantai Popoh (Tulungagung)
- Sedekah Gunung di lereng Merapi (Boyolali)
- Grebeg Suro dan pertunjukan Reog (Ponorogo)
- Baritan, tirakatan, dan memandikan keris (Jawa Timur)
Yogyakarta — Mubeng Beteng dan Tapa Bisu
Di Yogyakarta, Keraton rutin menggelar Mubeng Beteng pada malam 1 Suro. Ribuan peserta berjalan mengelilingi benteng keraton tanpa alas kaki dan tanpa berbicara. Tradisi ini dimaknai sebagai simbol introspeksi diri memasuki tahun baru agama.
Surakarta — Jamasan Pusaka dan Tradisi Suro
Surakarta membuka peringatan Bulan Suro dengan Jamasan Pusaka, yaitu pencucian benda-benda pusaka keraton. Prosesi ini melambangkan penyucian diri dan upaya pelestarian warisan budaya Jawa antar generasi.
Tulungagung (Jawa Timur) — Larung Kepala Kerbau
Di Pantai Popoh, masyarakat Tulungagung mengadakan ritual larung kepala kerbau. Prosesi tersebut merupakan ungkapan syukur dan doa agar nelayan serta warga diberikan keselamatan dan berkah sepanjang tahun.
Boyolali (Jawa Tengah) — Sedekah Gunung Merapi
Warga lereng Gunung Merapi menggelar Sedekah Gunung sebagai bentuk syukur atas hasil pertanian dan kehidupan. Selain doa, tradisi ini mempererat hubungan sosial antarwarga setempat.
Ponorogo — Grebeg Suro
Grebeg Suro menjadi agenda budaya terbesar di Ponorogo. Perayaan menampilkan seni Reog Ponorogo, kirab budaya, doa bersama, dan berbagai kegiatan yang menarik ribuan wisatawan.
Jawa Timur — Baritan, Tirakatan, dan Memandikan Keris
Sejumlah daerah di Jawa Timur merayakan 1 Muharram dengan tradisi Baritan berupa doa dan makan bersama. Ada pula tirakatan serta prosesi memandikan keris pusaka, yang dimaknai sebagai simbol penyucian dan harapan kehidupan lebih baik.
Secara keseluruhan, rangkaian tradisi tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Pulau Jawa menggabungkan praktik keagamaan dengan kebiasaan budaya lokal. Tradisi-tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual spiritual, tetapi juga sebagai sarana pelestarian budaya dan daya tarik pariwisata.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Dua Anak Muda Bali Juara Putra Putri Batik Nusantara 2026
Kadek Wijaya dan Putu Paramitha terpilih Grand Winner PPBN 2026 di Cibubur; diharapkan menguatkan peran gene...
Cerdas Cermat Jagat Satwa Nusantara 2026 Dibuka, Pendaftaran 28 Sep–10 Okt
Pendaftaran Cerdas Cermat Jagat Satwa Nusantara 2026 dibuka 28 Sep–10 Okt untuk siswa kelas V–VI SD/MI; 36 s...
Kemenkes: Deteksi H3N2 'Superflu' Lebih Rendah pada 2026
Kemenkes: meski influenza meningkat, deteksi H3N2 subclade K ('superflu') lebih rendah pada 2026 dibanding 2...
Merah Putih Bertanya: 750 Aktor Reenaksi Insiden Hotel Yamato
750 aktor menampilkan kembali insiden Hotel Yamato pada Sabtu, merekonstruksi penurunan dan pengoyakan bende...
Kementerian Kebudayaan Gelar Pentas KILA 2026 untuk Bangkitkan Lagu Anak
Kementerian Kebudayaan menggelar Pentas KILA 2026 di Jakarta untuk menghidupkan kembali lagu anak dan mengem...
Perpustakaan Danantara Resmi Dibuka di Museum Nasional
Perpustakaan Danantara resmi dibuka 25 September 2026 di Museum Nasional; koleksi langka bisa dibaca gratis...