Misbakhun: RUU Keuangan Negara Harus Berpijak pada Konstitusi
Mukhamad Misbakhun, Ketua Komisi XI DPR RI, menegaskan revisi RUU Keuangan Negara harus berlandaskan konstitusi agar pengelolaan kekayaan negara diarahkan untuk kepentingan nasional dan kemakmuran rakyat. Pernyataan itu disampaikan dalam RDPU Panja RUU Keuangan Negara bersama para ahli di Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin, 14 September 2026.
Revisi UU Nomor 17 Tahun 2003 sebagai momentum evaluasi
Misbakhun menyebut revisi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menjadi kesempatan untuk mengevaluasi sistem pengelolaan keuangan negara secara menyeluruh. Ia menekankan pembahasan tidak boleh hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga pada dasar filosofis dan konstitusional.
Sekarang kita mendapatkan kesempatan untuk undang-undang ini kita kembalikan kepada sebuah kepentingan yang murni nasionalisme dan kepentingan nasional kita. Bukan lagi bersandar kepada kepentingan asing.
Pasal 33 UUD 1945 sebagai pijakan
Menurut Misbakhun, Pasal 33 UUD 1945 harus menjadi landasan dalam memaknai kembali penguasaan negara terhadap cabang produksi strategis. Pengelolaan sumber daya alam harus mempertimbangkan keterbatasan modal, teknologi, dan kemampuan pengolahan yang dimiliki negara.
Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Ini yang harus kita maknai ulang, termasuk seberapa besar peran negara di dalam pasar.
Batas keterlibatan negara dalam kegiatan usaha
Misbakhun mempertanyakan titik ideal keterlibatan negara dalam kegiatan usaha setelah 81 tahun kemerdekaan. Ia menilai perlu evaluasi untuk menentukan sektor yang wajib dikelola negara dan bidang yang dapat diserahkan kepada swasta.
Pemisahan kekayaan negara dan konsistensi tanggung jawab
Dia juga menyoroti isu pemisahan kekayaan negara dari APBN. Menurutnya, pemisahan itu harus disertai kejelasan mengenai tanggung jawab dan pengakuan negara agar tidak menimbulkan inkonsistensi dalam proses pertanggungjawaban finansial.
Pada saat tertentu kita memisahkan kekayaan negara dari sisi tanggung jawab dan pengakuan, tetapi ketika ada persoalan kita menariknya lagi. Konsistensi ini harus kita pelihara, karena nanti undang-undang ini juga akan menyambungkan dengan kluster pertanggungjawaban keuangan negara.
Ruang publik dan kepastian hukum
Misbakhun berharap pembahasan RUU Keuangan Negara menjadi ruang diskusi publik untuk memperkuat kesadaran konstitusional. Ia menekankan bahwa kepastian hukum perlu memberikan ruang bagi pengambilan keputusan profesional dan bertanggung jawab dalam pengelolaan keuangan negara.
Jika dijalankan, pendekatan konstitusional dalam revisi ini dapat mengubah kerangka pengelolaan sumber daya dan investasi negara, serta memperjelas peran negara dan swasta dalam ekonomi nasional.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...