Rupiah Melemah ke Rp17.694, Ganti Menkeu Tak Angkat Sentimen
Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada penutupan perdagangan Selasa, 15 Agustus 2026, ke level Rp17.694 per dolar AS. Pelemahan tercatat sebesar 0,14% (25 poin), sementara pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara belum mampu mendorong sentimen positif di pasar.
Pergerakan pasar dan faktor domestik
Pelemahan rupiah terjadi meski pasar mencatat pengangkatan Suahasil Nazara sebagai upaya memperkuat pengelolaan fiskal. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai Suahasil dikenal sebagai sosok yang mampu memberi kepastian dan meningkatkan kredibilitas fiskal.
“Penunjukan Suahasil akan memperkuat kepercayaan terhadap disiplin fiskal dan kerangka defisit di bawah tiga persen,” ujar Ibrahim Assuaibi.
Namun Ibrahim menegaskan tugas Suahasil tidak ringan. Ia harus mengelola APBN sambil mendanai program prioritas dan mempercepat pertumbuhan ekonomi.
“Beliau harus mengelola APBN di tengah kebutuhan pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi serta membiayai program prioritas,” tambah Ibrahim.
Tekanan eksternal dan risiko pasokan global
Tekanan eksternal menjadi pemicu utama pelemahan. Perkembangan konflik di Timur Tengah, termasuk tindakan kelompok Houthi di sepanjang Laut Merah, meningkatkan risiko gangguan rute pelayaran strategis seperti Selat Bab el-Mandeb.
Para analis memperkirakan dinamika ini dapat mengganggu tambahan 4–5% dari pasokan global minyak, sehingga menambah tekanan pada mata uang pasar negara berkembang, termasuk rupiah.
Ekspektasi suku bunga The Fed
Sisi moneter global juga memengaruhi sentimen. Perangkat pemantau pasar mencatat peluang kenaikan suku bunga The Fed meningkat tajam ke sekitar 89%, naik dari sekitar 59,4% pada pekan sebelumnya. Ekspektasi ini mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang lain.
Angka kunci pasar
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Penutupan Rupiah | Rp17.694 per USD |
| Perubahan | -0,14% (25 poin) |
| Peluang kenaikan The Fed | ~89% |
| Perkiraan gangguan pasokan | 4–5% |
Perpaduan faktor domestik dan eksternal membuat rupiah tetap rentan. Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada langkah-langkah fiskal pemerintah di bawah Menkeu baru serta perkembangan geopolitik dan keputusan suku bunga global.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...