Rupiah Stagnan di Penutupan: Rp 17.877 per Dolar (13 Aug 2026)
Rupiah stagnan pada penutupan perdagangan Kamis, 13 Agustus 2026, tercatat di level Rp 17.877 per dolar AS. Data perdagangan menunjukkan mata uang domestik tidak bergerak signifikan setelah mengalami pelemahan awal.
Penutupan dan pergerakan pasar
Pada akhir sesi, rupiah tidak memperlihatkan tren naik atau turun yang jelas. Sebelumnya, rupiah sempat melemah sekitar tujuh poin sebelum akhirnya stagnan hingga penutupan.
Indeks dolar AS bergerak stabil di kisaran 99,95–99,98, setelah sebelumnya menyentuh level 100. Kondisi tersebut membuat pergerakan rupiah relatif datar menjelang sesi berikutnya.
Faktor eksternal yang memengaruhi
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menahan pergerakan mata uang. Analis pasar melihat eskalasi antara AS dan Iran menimbulkan sentimen berhati-hati pada pelaku pasar global.
"AS terus mengklaim telah menguasai Selat Hormuz dan pengawasannya 100 persen di bawah AS. Sedangkan Iran menegaskan, yang memegang kewenangan atas Selat Hormuz adalah Iran dan Oman," ujar Ibrahim Assuaibi.
Selain geopolitik, pelaku pasar menunggu data inflasi AS berikutnya. Pelemahan inflasi di Amerika membuka peluang bank sentral AS untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan September mendatang.
Pasar kini mengarahkan perhatian pada rilis Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang dijadwalkan malam ini, sebagai indikator inflasi lanjutan.
Faktor domestik dan sentimen pasar
Di dalam negeri, perhatian tertuju pada hasil tinjauan indeks penyedia indeks global MSCI untuk Agustus 2026. MSCI tetap menempatkan Indonesia dalam klasifikasi emerging market, yang menunjukkan pandangan lembaga tersebut terhadap pasar modal Indonesia masih positif.
Sentimen domestik lain yang mengiringi perdagangan adalah penunjukan calon tunggal Gubernur Bank Indonesia. Pasar mencermati penunjukan Destry Damayanti oleh Presiden, yang dianggap memberi sentimen positif terhadap stabilitas mata uang.
"Ini juga menjadi sentimen positif pasar dan membuat rupiah stagnan," kata Ibrahim Assuaibi.
Prospek ke depan
Secara singkat, kombinasi faktor eksternal dan domestik membuat rupiah bergerak terbatas menjelang data ekonomi penting. Pelaku pasar diperkirakan akan bereaksi pada rilis inflasi AS dan perkembangan geopolitik dalam beberapa hari mendatang.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Grab Luncurkan Group Ride: Berbagi Ongkos hingga 50%
Grab meluncurkan fitur Group Ride sejak April 2026 untuk atur perjalanan bersama lewat satu pemesanan, denga...
Mobilitas Kereta Api Sumatra Capai 11,34 Juta Penumpang
KAI mencatat 11.342.350 pergerakan penumpang di Sumatra (Jan–Sep 2026), naik 12,02% dibandingkan 2025.
Kemenko Hilirisasi dan Energi Diharap Percepat Transisi Energi
Imaduddin Abdullah menilai pembentukan Kemenko Hilirisasi dan Energi percepat transisi energi, hilirisasi, d...
Hilirisasi Nikel Dorong PNBP Capai Rp21 Triliun
Hilirisasi nikel mendorong ekspor USD6,54 miliar dan PNBP mencapai Rp21 triliun hingga 31 Agustus 2026, namu...
Harga Emas Pekan Depan Diprediksi Fluktuatif, Waspada Saat Beli
Harga emas dunia diperkirakan berfluktuasi tajam pekan depan karena pengaruh indeks dolar AS dan harga minya...
Indonesia Kuasai 0,9% Pasar Ekspor Bambu, Kemenperin Dorong Penguatan Hulu
Kemenperin sebut Indonesia kuasai 0,9% pasar ekspor bambu global; AKB 2026 digelar untuk perkuat pasokan dan...