Akhir Pekan, Rupiah Melemah ke Rp17.963 di Tengah Tekanan Eksternal
Rupiah kembali melemah pada akhir pekan ini, ditutup di posisi Rp17.963 per dolar AS atau turun sekitar 0,15%. Pelemahan terjadi seiring kombinasi kebijakan perdagangan AS, perkembangan geopolitik, dan data tenaga kerja yang kuat di AS.
Ringkasan pergerakan
Perdagangan ditutup dengan rupiah melemah setelah tekanan dolar menguat. Sentimen pasar dipengaruhi oleh kebijakan tarif impor baru dari pemerintah AS dan laporan geopolitik yang menurunkan ekspektasi de-eskalasi konflik internasional.
Faktor eksternal: tarif impor dan geopolitik
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mencatat pengumuman tarif impor baru dari pemerintahan AS sebagai salah satu pemicu pelemahan rupiah. Kebijakan itu menetapkan tarif impor sebesar 10% dan 12,5% untuk sejumlah produk, termasuk yang berasal dari Indonesia. Pengenaan tarif dilakukan setelah otoritas perdagangan AS menyelesaikan investigasi terkait dugaan praktik kerja paksa.
"Kebijakan tersebut menetapkan tarif sebesar 10 persen dan 12,5 persen terhadap produk impor, termasuk dari Indonesia," kata Ibrahim.
Di sisi lain, laporan media internasional menyebut penolakan terhadap proposal gencatan senjata di salah satu titik konflik membuat harapan de-eskalasi jangka pendek memudar. Kondisi geopolitik ini meningkatkan permintaan terhadap aset aman dan memperkuat dolar AS.
Data tenaga kerja AS dan imbal hasil obligasi
Data pasar tenaga kerja AS keluar lebih kuat dari perkiraan, yang menimbulkan kekhawatiran investor bahwa The Fed akan tetap menjaga kebijakan moneter ketat lebih lama. Ibrahim menyoroti penurunan klaim pengangguran awal yang tak terduga.
"Klaim pengangguran awal secara tak terduga turun menjadi 187.000, level terendah dalam beberapa dekade," ucap Ibrahim.
Imbasnya, imbal hasil obligasi AS naik menuju level tertinggi sejak Januari 2025, sehingga dolar menguat terhadap mata uang emerging market termasuk rupiah.
Dampak domestik: risiko defisit APBN
Dari sisi domestik, Ibrahim memperingatkan potensi pelebaran defisit anggaran negara akibat kenaikan harga minyak mentah. Ia mencatat harga minyak dunia kini telah melampaui asumsi perubahan APBN yaitu USD83 per barel, sementara nilai tukar rupiah kembali mendekati Rp18.000 per dolar AS.
"Harga minyak dunia saat ini sudah di atas target APBN perubahan yaitu USD83 per barel dan nilai tukar rupiah kembali mendekati Rp18.000 per dolar AS," kata Ibrahim.
Kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah dapat mendorong kebutuhan pembiayaan dalam dolar, sehingga menambah tekanan pada nilai tukar.
Prospek ke depan
Rupiah diperkirakan masih rentan dalam beberapa waktu ke depan, tergantung perkembangan kebijakan perdagangan AS, arah eskalasi geopolitik, serta data ekonomi AS berikutnya. Pemerintah dan pelaku pasar akan memantau pergerakan harga minyak dan keputusan kebijakan moneter global sebagai faktor penentu selanjutnya.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...