Ekonomi

Rupiah Melemah Dipicu Kekhawatiran Gangguan Pasokan Minyak

Bagikan:
Grafik pergerakan nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS saat penutupan pasar

Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin, 20 Juli 2026, seiring kekhawatiran pasar atas kemungkinan gangguan pasokan minyak akibat memanasnya konflik AS-Iran dan implikasi kebijakan moneter global.

Pergerakan pasar dan data terakhir

Data menunjukkan rupiah turun 0,15 persen atau 27 poin ke level Rp17.948 per dolar AS pada penutupan. Pergerakan ini mencerminkan sentimen risk-off di pasar yang menyorot faktor eksternal sebagai pemicu utama fluktuasi.

Tekanan eksternal: konflik AS-Iran dan harga minyak

Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan bahwa kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak menjadi sorotan investor setelah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.

"Pasar keuangan masih waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak yang berlanjut karena masih memanasnya konflik AS-Iran," kata Ibrahim Assuaibi, Senin, 20 Juli 2026.

Harga minyak terus melambung sejak AS melakukan serangan baru ke Iran, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan ke fasilitas militer AS di beberapa negara Teluk. Kenaikan harga energi ini memperburuk sentimen global dan mendorong pergeseran aliran modal ke aset aman.

Dampak pada kebijakan moneter AS dan penguatan dolar

Ibrahim juga menyorot kondisi data domestik AS terbaru yang menunjukkan latar belakang ekonomi lebih lemah, khususnya pada inflasi dan pasar tenaga kerja. Kondisi ini justru menimbulkan kekhawatiran bahwa kenaikan biaya energi membuat pengendalian inflasi oleh The Fed lebih sulit.

"Investor tetap fokus kemungkinan kenaikan biaya energi yang membuat the Fed sulit mengendalikan inflasi," ujar Ibrahim.

Akibatnya, ada kemungkinan pembuat kebijakan mempertahankan suku bunga tinggi, yang mendorong naiknya imbal hasil obligasi AS dan memperkuat dolar terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Kondisi domestik dan prospek pertumbuhan

Dari sisi domestik, Ibrahim mencatat adanya kontraksi sisi permintaan. Meskipun arus investasi asing deras, investasi domestik melemah dan konsumsi rumah tangga turun, sehingga menahan laju pemulihan ekonomi.

Realisasi investasi tercatat sebesar Rp511,8 triliun dengan pertumbuhan 7,1 persen. Namun, angka ini dinilai belum mampu mengimbangai perlambatan permintaan domestik karena pelaku usaha menunda ekspansi di tengah biaya pembiayaan tinggi dan ketidakpastian ekonomi.

"Pelaku usaha juga mengalami tekanan dari sisi tingginya pembiayaan pendanaan dan ketidakpastian ekonomi. Karenanya, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara melanjutkan agenda hilirisasi dan mendorong investasi ke sektor yang banyak menyerap tenaga kerja," kata Ibrahim menutup analisisnya.

Kesimpulan dan hal yang perlu diwaspadai

Ke depan, rupiah kemungkinan akan tetap rentan terhadap perkembangan geopolitik dan pergerakan harga minyak. Perhatian pasar juga akan tertuju pada langkah kebijakan moneter global dan kekuatan permintaan domestik sebagai penentu arah nilai tukar dan prospek pertumbuhan.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait