Ekonomi

Tensi Timur Tengah Dorong Rupiah Melemah ke Rp18.125

Bagikan:
Grafik pergerakan rupiah dan simbol ketegangan geopolitik di Timur Tengah

Rupiah kembali melemah pada Selasa, 14 Juli 2026, dibuka turun 0,09% menjadi Rp18.125 per dolar AS pada pukul 09.00 WIB. Pelemahan ini dipicu kenaikan harga minyak setelah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan memicu kekhawatiran terhadap pasokan global.

Pergerakan terbaru rupiah

Sehari sebelumnya rupiah juga melemah 0,24% atau 44 poin, menutup perdagangan di level Rp18.109 per dolar AS. Analis pasar uang Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, memperkirakan tekanan masih berlanjut dan menempatkan proyeksi nilai tukar pada sekitar Rp18.170 per dolar AS.

"Depresiasi rupiah kemungkinan akan berlanjut," kata Fikri C. Permana.

Faktor pendorong: geopolitik dan harga minyak

Fikri mengatakan peningkatan tensi di Timur Tengah menjadi faktor utama. Iran dilaporkan menutup kembali Selat Hormuz, sementara Amerika Serikat mengklaim penguasaan atas jalur tersebut. Kondisi itu mendorong reli harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi dan pasokan energi.

Dampak pada sentimen pasar dan peringkat kredit

Pelaku pasar juga mencermati penilaian lembaga pemeringkat S&P yang menempatkan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil. Kondisi eksternal tersebut membuat arus modal menjadi lebih berhati-hati dan memperburuk tekanan pada mata uang domestik.

Kinerja rupiah dan proyeksi kebijakan BI

Tim analis Mirae Asset Sekuritas mencatat rupiah telah terdepresiasi sekitar 1% sepanjang Juli 2026. Sejak awal tahun, pelemahan tercatat lebih dalam, yakni sekitar 8,5%. Analis Mirae Asset, Jessica Tasijawa, menyebut rupiah menjadi salah satu mata uang dengan performa terburuk di kawasan, sementara indeks dolar AS menguat ke level 101,27.

"Kinerja mata uang rupiah tetap menjadi yang terburuk di kawasan," kata Jessica Tasijawa.

Jessica memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat untuk menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah. Menurutnya, ruang untuk kenaikan suku bunga masih terbuka sebagai upaya mendongkrak arus masuk portofolio asing.

"BI akan menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah untuk mendorong arus masuk portofolio asing," ucap Jessica.

Dengan kombinasi risiko geopolitik, harga minyak yang naik, dan penguatan dolar AS, rupiah kemungkinan akan menghadapi tekanan lanjutan dalam jangka pendek, sementara kebijakan BI yang ketat menjadi faktor penyangga penting untuk stabilisasi.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait