Rupiah Melemah Jelang Pengumuman BI Rate, Dibuka Rp17.857/USD
Rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan Kamis, 18 Juni 2026. Mata uang domestik dibuka turun 0,53% atau 95 poin ke posisi Rp17.857 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya juga terkoreksi 0,21% ke Rp17.762 per dolar AS. Pelemahan pagi ini dipicu menguatnya dolar AS dan sentimen global menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan siang ini.
Pergerakan pasar pagi ini
Penguatan dolar AS didorong oleh sinyal kenaikan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed), yang menciptakan sentimen risk off di pasar keuangan global. Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, melihat tekanan tersebut sebagai faktor utama pelemahan rupiah.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS, yang menguat setelah pengumuman suku bunga The Fed,"
Lukman juga menyebut rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang mengisyaratkan kenaikan suku bunga menjadi pemicu peningkatan aversi risiko di pasar.
Proyeksi pergerakan dan indikator
Lukman memprakirakan pergerakan rupiah akan berada dalam rentang Rp17.750–Rp17.900 per dolar AS pada hari ini. Sementara itu, indeks dolar AS diperkirakan menguat ke kisaran 100,31–100,38.
- Open: Rp17.857 per USD (turun 0,53%)
- Penutupan sehari sebelumnya: Rp17.762 per USD (turun 0,21%)
- Perkiraan range hari ini: Rp17.750–Rp17.900 per USD
- Perkiraan indeks dolar AS: 100,31–100,38
Pengaruh keputusan BI dan kebijakan domestik
Di dalam negeri, fokus pasar tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia tentang BI Rate yang akan diumumkan siang ini. Tim analis Mirae Asset Sekuritas memprakirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,5%, setelah akumulasi kenaikan 75 basis poin sejak Mei 2026.
"BI masih akan fokus pada upaya stabilisasi nilai tukar rupiah,"
kata Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto. Ia menambahkan bahwa keputusan suku bunga ke depan akan diambil secara berhati-hati dan berbasis data masuk.
Dampak dan prospek
Rully memperkirakan BI akan memanfaatkan seluruh bauran instrumen kebijakan untuk mendorong rupiah menuju kisaran kenyamanan sekitar Rp16.800–Rp17.500 per dolar AS. Selain kebijakan domestik, meredanya ketegangan geopolitik dan turunnya harga minyak disebutnya membuka ruang lebih besar bagi stabilisasi nilai tukar, terutama dalam jangka pendek hingga menengah.
Pasar kini menunggu keputusan BI sebagai penentu sentimen berikutnya; hasil rapat dan pernyataan resmi bank sentral diperkirakan akan menentukan arah rupiah dalam beberapa hari mendatang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Sao Tome Buka Jalur Paspor untuk Investor dengan Investasi $90.000
Sao Tome menawarkan paspor melalui investasi $90.000 ke National Transformation Fund, tanpa kewajiban meneta...
Jadwal Kapal Ferry Singkil–Pulau Banyak, Senin 10 Agustus 2026
KMP Aceh Hebat 3 layani rute Singkil–Pulau Banyak Senin 10 Agustus 2026; berangkat Singkil pukul 17.00 WIB,...
Jadwal Kapal Roro Sabang–Banda Aceh 10 Agustus 2026
PT ASDP Banda Aceh umumkan jadwal kapal Roro Sabang–Banda Aceh 10 Agustus 2026, termasuk jadwal KMP Aceh Heb...
Pelabuhan Kijing Berpeluang Jadi Pintu Ekspor Utama Kalbar
Pelabuhan Kijing di Mempawah berpotensi jadi pintu ekspor utama Kalbar berkat posisi strategis, infrastruktu...
Harga Ikan di Singkil Naik Tajam karena Pasokan Menipis
Pasokan ikan di Aceh Singkil menipis akibat cuaca ekstrem dan musim paceklik, memicu lonjakan harga hingga R...
IHSG Diprediksi Menguat, Berpeluang Uji Level 6.500 Hari Ini
IHSG diperkirakan menguat dan berpeluang menguji level 6.500 hari ini, didorong penurunan peluang kenaikan s...