Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp17.676, Harapan pada Menkeu Baru Terbatas

Bagikan:
Grafik pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS menunjukkan pelemahan pada pembukaan perdagangan

Nilai tukar rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan Selasa, 15 September 2026. Pukul 09.30 WIB, rupiah tercatat turun 0,04% atau 7 poin menjadi Rp17.676 per dolar AS, melanjutkan penurunan dari penutupan sebelumnya di Rp17.669.

Kinerja rupiah pagi ini

Pelemahan ini terjadi meski analis sempat memperkirakan rupiah akan menguat di awal sesi. Pada penutupan Senin, rupiah melemah 0,33% atau 58 poin ke posisi Rp17.669 per dolar AS. Pergerakan pagi ini menunjukkan adanya tekanan jual dan volatilitas yang masih tinggi.

Faktor pemicu dan sentimen pasar

Salah satu harapan pasar datang dari pergantian Menteri Keuangan, yang dinilai dapat menimbulkan respons positif. Namun analis pasar menyebut ruang penguatan rupiah terbatas. Faktor eksternal seperti harga minyak mentah dunia yang masih tinggi menambah tekanan pada mata uang domestik.

"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS menyusul pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya kepada Suahasil. Pergantian ini diharapkan akan direspons positif dari pasar,"

- Lukman Leong, Analis Pasar Uang, Doo Financial Futures (15 September 2026)

Selain itu, pelaku pasar bersikap wait-and-see menjelang dua momen kebijakan penting: rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pekan ini dan hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) di Amerika Serikat pada akhir pekan. Kenaikan inflasi di AS memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, sementara pasar memperkirakan Bank Indonesia kemungkinan besar mempertahankan suku bunga acuan.

Proyeksi pergerakan dan indikator terkait

Lukman memperkirakan kisaran pergerakan rupiah hari ini berada di antara Rp17.550 hingga Rp17.700 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS juga bergerak mendekati level 100, tercatat pada level 99,59 pada pagi hari.

Gabungan faktor domestik dan eksternal itu menunjukkan pasar masih rentan terhadap sentimen risiko global. Jika harga minyak dan ekspektasi suku bunga global tidak mereda, tekanan pada rupiah berpotensi berlanjut dalam jangka pendek.

Implikasi dan langkah pengawasan

Investor dan pelaku pasar perlu memantau hasil RDG BI dan sinyal kebijakan The Fed. Keputusan kedua lembaga tersebut akan menentukan momentum arus modal dan arah kurs dalam beberapa minggu ke depan. Dalam kondisi saat ini, pergerakan rupiah diprediksi tetap dipengaruhi oleh berita kebijakan serta perkembangan harga komoditas energi.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait