Rupiah Melemah ke Rp17.985 di Pembukaan Perdagangan
Rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan Jumat, 26 Juni 2026. Mata uang domestik tercatat menyentuh Rp17.985 per dolar AS, turun 0,23 persen (42 poin) dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pembukaan pasar dan pengaruh data inflasi AS
Data Bloomberg mencatat rupiah melemah setelah penutupan Kamis 25 Juni 2026 yang menunjukkan penguatan tipis ke posisi Rp17.943 per dolar AS. Pelemahan awal hari ini dipicu oleh rilis data inflasi Amerika Serikat.
Analis Pasar Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan bahwa kenaikan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) inti menjadi katalis pelemahan rupiah.
"Rupiah diprakirakan melemah terhadap dolar AS setelah rilis data inflasi Amerika Serikat,"
"Kenaikannya mencapai tingkat tertinggi sejak Oktober 2023,"
Inflasi PCE inti pada Mei 2026 tercatat 4,1 persen, meningkat dari 3,8 persen pada April. Angka ini menjadi acuan utama The Fed dalam mempertimbangkan kebijakan suku bunga.
Skenario pergerakan dan ekspektasi pasar
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.900-Rp18.050 per dolar AS pada hari ini. Ia juga memproyeksikan indeks dolar AS menguat di kisaran 101,43-101,51.
Imbal hasil SBN dan arus modal asing
Di pasar surat berharga negara, imbal hasil (yield) SBN turun. Untuk tenor 10 tahun, yield tercatat 7,17 persen, sementara tenor 2 tahun berada di 7,16 persen.
Tim Analis Mirae Asset Sekuritas menilai penurunan imbal hasil sejalan dengan apresiasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Bank Indonesia. BI menaikkan suku bunga total 100 basis poin sejak Mei, termasuk kenaikan 50 bps pada Juni.
"Imbal hasil yang tetap berada di atas level 7 persen mulai berhasil mengembalikan daya tarik aset keuangan Indonesia. Hal ini tercermin dari arus masuk modal asing sekitar Rp12 triliun pada bulan Juni,"
Kepemilikan asing di SBN meningkat menjadi 12,7 persen, dan CDS tenor 5 tahun kini kembali di bawah 90 bps.
Risiko geopolitik: Selat Hormuz
Sentimen global sempat membaik karena pembukaan kembali Selat Hormuz, namun kondisi memburuk setelah terjadi insiden tembakan peringatan oleh Garda Revolusi Iran terhadap kapal berbendera Singapura. Kapal tanker MT Gamsunoro milik PT Pertamina International Shipping dilaporkan berhasil keluar dari Selat Hormuz, namun situasi kawasan masih belum stabil dan berisiko memicu ketegangan lebih lanjut.
Implikasi dan faktor yang perlu diwaspadai
Pergerakan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal seperti inflasi AS dan geopolitik, serta faktor domestik seperti kredibilitas kebijakan ekonomi. Tim Mirae menekankan bahwa kelanjutan arus modal asing tetap bergantung pada perbaikan tata kelola dan reformasi struktural di dalam negeri.
Investor perlu mencermati rilis data domestik dan global berikutnya, serta pernyataan The Fed dan kebijakan BI yang bisa memengaruhi arah kurs dan yield SBN.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Minyak Atsiri Tembus USD348,7 Juta, Kemenperin Pacu Hilirisasi
Ekspor minyak atsiri Indonesia naik ke USD348,7 juta pada 2025; Kemenperin dorong hilirisasi untuk tambah ni...
BI Pertahankan Suku Bunga, Rupiah Menguat hingga Rp17.840
BI pertahankan suku bunga 5,75%; rupiah menguat 0,12% ke Rp17.840 per USD pada penutupan perdagangan Rabu, 1...
Secure Parking Kelola 1.700 Titik, Hampir 2 Juta Kendaraan Sehari
Secure Parking mengelola 1.700 titik parkir di Indonesia dan melayani hampir 2 juta kendaraan setiap hari, d...
BI Tahan Suku Bunga, IHSG Melemah 0,86% ke 6.394
IHSG turun 0,86% ke 6.394 pada 19 Agustus 2026 setelah BI mempertahankan suku bunga 5,75%; nilai transaksi R...
Pasokan Energi Jadi Prioritas Pertamina Pascagempa NTT
FKBI meminta pasokan BBM dan LPG jadi prioritas penanganan pascagempa NTT agar distribusi logistik dan aktiv...
IHSG Anjlok Jeda Siang, Investor Tunggu Keputusan Suku Bunga BI
IHSG melemah 0,60% pada jeda siang 19 Agustus 2026; investor menanti keputusan suku bunga BI dan terpengaruh...