Rupiah Bergerak Fluktuatif, Diprakirakan Konsolidasi Hari Ini
Nilai tukar rupiah bergerak fluktuatif terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Selasa, 8 September 2026, dan diperkirakan akan berkonsolidasi. Data Bloomberg mencatat rupiah sempat melemah tipis saat pembukaan, lalu berbalik menguat setengah jam kemudian. Analis menyebut absennya data ekonomi penting dan tekanan dari kenaikan harga minyak menjadi faktor utama.
Pergerakan terbaru
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 10.00 WIB, rupiah menguat 0,15 persen ke posisi Rp17.614 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan Senin, rupiah tercatat menguat tipis 0,01 persen ke Rp17.640 per dolar AS.
| Indikator | Nilai | Perubahan |
|---|---|---|
| Rupiah (10.00 WIB) | Rp17.614/USD | +0,15% |
| Rupiah (Penutupan Senin) | Rp17.640/USD | +0,01% |
| Minyak Brent | USD97,31/barel | +1,1% |
| Minyak WTI | USD92,87/barel | +1,3% |
| Aliran modal asing (s.d. 14 Agt 2026) | USD1,8 miliar | - |
| Cadangan devisa (Agustus) | USD146,5 miliar | - |
Faktor yang memengaruhi
Analis Pasar Uang Doo Financial Figures, Lukman Leong, mengatakan pasar cenderung menunggu sentimen baru karena tidak ada data ekonomi domestik maupun eksternal yang penting hari ini.
"Hari ini rupiah diperkirakan berkonsolidasi terhadap dolar AS di tengah absennya data ekonomi penting. Baik data ekonomi dari internal maupun eksternal,"
Lukman juga menyoroti kenaikan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah sebagai tekanan bagi rupiah. Ia memproyeksikan pergerakan nilai tukar hari ini berada dalam rentang.
"Konflik itu yang akan akan membebani rupiah. Prakiraannya, rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.600-Rp17.700 per dolar AS,"
Dukungan dari aliran modal asing
Tim analis Mirae Asset Sekuritas mencatat adanya aliran modal asing masuk melalui portofolio, termasuk pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
"Penguatan permintaan terhadap aset Rupiah mengurangi tekanan nilai tukar,"
Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menyampaikan bahwa aliran masuk modal asing hingga 14 Agustus 2026 tercatat sebesar USD1,8 miliar. Kondisi ini membantu mengurangi kebutuhan penggunaan cadangan devisa untuk stabilisasi.
Prospek dan implikasi
Dengan kombinasi sentimen menunggu data dan tekanan dari harga minyak, rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif di kisaran Rp17.600–Rp17.700 per dolar AS. Kenaikan harga minyak akibat konflik regional berpotensi menambah volatilitas, sementara aliran modal asing dan posisi cadangan devisa yang membaik menjadi penyangga.
Pelaku pasar dianjurkan memantau perkembangan harga minyak global dan rilis data ekonomi mendatang untuk mengantisipasi pergerakan nilai tukar.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
OJK Kenakan Denda Rp104,63 Miliar pada 113 Pihak di Pasar Modal
OJK menjatuhkan denda Rp104,63 miliar kepada 113 pihak dan memaparkan perkembangan RPOJK demutualisasi sesua...
KAI, Gojek, dan Pemkot Bogor Integrasikan Transportasi Wilayah
KAI, Gojek, dan Pemkot Bogor kerja sama penataan stasiun dan integrasi layanan digital untuk melayani 105.70...
Kereta Cepat Whoosh Aman Meski Abu Vulkanik Anak Krakatau
Whoosh tetap beroperasi aman setelah erupsi Anak Krakatau; OCC catat OCS dan persinyalan berfungsi normal, p...
BEI Gelar Public Expose Live 2026, Buka Peluang Investasi
BEI menggelar Public Expose Live 2026 (7–11 Sept) secara virtual dengan 45 perusahaan, memberi akses informa...
Erupsi Anak Krakatau Hambat Arus Ekspor-Impor via Soekarno-Hatta
SCI peringatkan erupsi Anak Krakatau dapat menghambat ekspor-impor lewat Soekarno-Hatta; gangguan 8 jam bisa...
Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.640, Tertahan Ketegangan Timur Tengah
Rupiah menguat tipis ke Rp17.640 per USD pada penutupan, namun penguatan tertekan oleh ketegangan AS-Iran da...