Ekonomi

Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.640, Tertahan Ketegangan Timur Tengah

Bagikan:
Grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS

Rupiah menguat tipis di penutupan perdagangan hari ini menjadi Rp17.640 per dolar AS, namun penguatan tersebut tertahan oleh eskalasi konflik di Timur Tengah dan risiko domestik. Kenaikan hanya 2 poin atau sekitar 0,01%, sementara pelaku pasar terus mencermati perkembangan geopolitik dan data ekonomi.

Pergerakan rupiah di pasar

Catatan penutupan menunjukkan penguatan sangat terbatas. Pelaku pasar menilai bahwa sentimen eksternal saat ini mendominasi tekanan pada nilai tukar. Selain faktor geopolitik, pasar juga menunggu data inflasi yang dapat memengaruhi prospek kenaikan suku bunga the Fed.

Ketegangan AS-Iran dan risiko Selat Hormuz

Ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat. Tehran menyatakan rencana pembentukan zona maritim terbatas di luar Selat Hormuz, yang memicu kekhawatiran gangguan pelayaran dan pasokan energi global.

"Tehran bahkan menyatakan akan menetapkan zona maritim terbatas yang baru di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Kapal-kapal yang memasuki wilayah tersebut berpotensi menghadapi sanksi," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Pasar Uang, pada Senin, 7 September 2026.

Kekhawatiran pasar tumbuh karena arus lalu lintas di Selat Hormuz menurun drastis. Menurut pengamatan pasar, aktivitas pelayaran sudah mencapai titik yang jauh lebih rendah dari biasanya.

"Hanya 10 kapal pengangkut komoditas yang melintas per harinya," kata Ibrahim, menyebut beberapa kapal menghindari Selat Hormuz karena meningkatnya risiko keamanan.

Faktor ekonomi yang dinantikan

Investor kini menunggu rilis Indeks Harga Konsumen dan Indeks Harga Produksi. Jika angka inflasi tetap tinggi, peluang kenaikan suku bunga the Fed kembali terbuka. Hal ini dapat memperkuat dolar dan menekan mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Risiko domestik: bencana dan gangguan transportasi

Pasar juga mencermati risiko domestik yang menambah ketidakpastian. Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak pada sektor penerbangan dan aktivitas masyarakat. Di sisi lain, kondisi sungai yang mengering mengganggu logistik komoditas.

"Pasar juga mengkhawatirkan bencana alam yang terjadi. Erupsi Gunung Anak Krakatau menimbulkan dampak signifikan pada sektor penerbangan dan terganggunya aktivitas masyarakat," ujar Ibrahim.

Ibrahim menyoroti pengeringan Sungai Barito yang menghentikan angkutan batubara. Gangguan transportasi seperti ini menambah risiko bagi perekonomian domestik jika berlangsung lama.

Prospek dan yang perlu dipantau

Ke depan, rupiah akan bergerak dipengaruhi tiga faktor utama: eskalasi geopolitik, hasil data inflasi dan produksi, serta efektivitas penanganan bencana domestik. Pelaku pasar akan terus memantau perkembangan ini untuk menilai tekanan jangka pendek terhadap stabilitas nilai tukar.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait