OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terkendali di Tengah Risiko Global
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia tetap terjaga
Risiko global yang memengaruhi stabilitas
OJK mencatat risiko geopolitik di Timur Tengah masih pada level tinggi akibat berlanjutnya konflik di Iran dan belum dibukanya kembali Selat Hormuz. Gangguan ini mendorong volatilitas harga minyak dan komoditas, sehingga menekan inflasi global.
"Gangguan jalur distribusi energi tersebut menyebabkan volatilitas harga minyak dan komoditas. Sehingga tekanan inflasi global tetap tinggi,"
Fenomena El Niño yang berkepanjangan juga diperhatikan karena berkontribusi pada kekeringan dan kebakaran hutan di sejumlah kawasan. Kondisi cuaca ekstrem ini menambah tekanan pada pasokan komoditas dan inflasi.
Kinerja ekonomi global
OJK mencatat perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Mayoritas negara melaporkan laju pertumbuhan yang lebih rendah pada kuartal II 2026.
Di Amerika Serikat, pertumbuhan berada di bawah ekspektasi disertai moderasi pasar tenaga kerja dan inflasi yang masih tinggi meski mulai menurun. Di Tiongkok, pertumbuhan kuartal II 2026 melambat menjadi 4,3 persen secara tahunan, yang tercermin pada melemahnya sektor produksi dan permintaan domestik.
"Dengan data terkini mengindikasikan pelemahan yang masih berlanjut. Baik pada sektor produksi maupun permintaan domestik,"
Dampak pada pasar keuangan
Tekanan juga terlihat di pasar keuangan global melalui kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah negara maju. OJK menyebut kenaikan ini dipengaruhi kebutuhan pendanaan belanja modal perusahaan hyperscalers di tengah kebijakan moneter yang masih bersifat restriktif.
Kondisi domestik: pertumbuhan, inflasi, dan manufaktur
Meski kondisi global menantang, ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan, didukung investasi dan belanja pemerintah serta konsumsi rumah tangga yang kuat.
"Didukung investasi dan belanja pemerintah. Konsumsi rumah tangga yang kuat juga masih menjadi penopang utama pertumbuhan,"
Namun tekanan tetap ada. Inflasi Indonesia pada Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan, sementara aktivitas sektor manufaktur masih berada di zona kontraksi dengan PMI 49,8.
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Pertumbuhan Tiongkok (Q2 2026) | 4,3% (YoY) |
| Pertumbuhan Indonesia (Q2 2026) | 5,29% (YoY) |
| Inflasi Indonesia (Agustus 2026) | 3,19% (YoY) |
| PMI Manufaktur Indonesia | 49,8 (zona kontraksi) |
OJK menegaskan akan terus memantau perkembangan global dan domestik untuk menjaga stabilitas sektor jasa keuangan. Pemantauan ini dianggap penting mengingat kombinasi tekanan geopolitik, fluktuasi komoditas, dan kondisi tenaga kerja global yang masih rapuh.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...