Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.659 per Dolar AS
Rupiah dibuka melemah pada awal pekan ini ke posisi Rp17.659 per dolar AS, turun sekitar 0,10 persen atau 17 poin dibanding penutupan akhir pekan lalu. Pergerakan ini terjadi seiring pasar menunggu data dan keputusan kebijakan yang bisa mempengaruhi arus modal.
Pembukaan pasar
Pada pembukaan perdagangan hari ini, rupiah tercatat lebih rendah dibanding penutupan Jumat lalu yang ada di kisaran Rp17.642 per dolar AS. Penurunan pembukaan mencerminkan sentimen hati-hati investor pada awal pekan.
Proyeksi teknikal
Head of Research Retail MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan rupiah masih berisiko melemah secara teknikal hari ini. Ia menyebut pasar akan menguji area resistance terdekat.
Dari sisi teknikal kami perkirakan rupiah hari ini masih rawan melemah terhadap dolar AS. Nilai tukar rupiah akan menguji area Rp17.734-17.772 per dolar AS sebagai sebagai area terdekatnya
Namun Herditya juga menyampaikan peluang penguatan jika rupiah mampu menembus level support yang disebutnya. Menurutnya, ada skenario rebound yang layak dicermati oleh trader.
Penguatan bisa terjadi bila rupiah mampu bergerak ke bawah Rp17.612 per dolar AS, sebagai supportnya, maka terdapat potensi rupiah menguat ke Rp17.476-17.519 per dolar AS.
Faktor yang mempengaruhi
Herditya, yang akrab dipanggil Didi, menyebut beberapa faktor utama yang akan menentukan arah rupiah hari ini. Pertama, perhatian pasar tertuju pada data cadangan devisa yang akan dirilis oleh otoritas moneter domestik.
Investor juga akan mencermati peluang suku bunga The Fed ke depan,
ia menambahkan bahwa sikap bank sentral AS masih cenderung hawkish setelah rilis data tenaga kerja terbaru.
Data AS dan implikasi
Data No-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat akhir pekan lalu menunjukkan penambahan pekerjaan sebesar 162.000. Angka ini melampaui perkiraan pasar yang berada di rentang 53.000–56.000 pekerjaan, yang dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed.
Kondisi ini berpotensi menambah tekanan pada mata uang emerging market, termasuk rupiah, ketika investor menilai prospek suku bunga global tetap ketat.
Secara keseluruhan, pergerakan rupiah hari ini masih rentan terhadap sentimen eksternal dan data domestik. Pelaku pasar akan memantau angka cadangan devisa dan sinyal kebijakan moneter internasional untuk menentukan strategi selanjutnya.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...