Arah Harga Emas Pekan Depan di Tengah Ketegangan Timur Tengah
Harga emas pekan depan berpeluang naik meski penutupan akhir pekan lalu turun. Analis memprakirakan pergerakan harga dipengaruhi eskalasi konflik di Timur Tengah dan ekspektasi suku bunga di Amerika Serikat.
Prediksi harga dan rentang
Analis Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas batangan di pasar domestik akan bergerak dalam rentang yang relatif lebar. Perkiraan ini muncul pada Minggu, 6 September 2026, setelah harga akhir pekan tercatat menurun.
Ibrahim Assuaibi: Harga logam mulia dalam sepekan ke depan kemungkinan ditransaksikan di Rp2.500.000- per gram hingga Rp2.754.000 per gram
Sebagai perbandingan, pada hari Sabtu harga logam mulia tercatat di level Rp2.634.000 per gram.
| Instrumen | Perkiraan Pekan Depan |
|---|---|
| Emas domestik | Rp2.500.000 – Rp2.754.000 per gram |
| Emas dunia | USD 4.276 – USD 4.668 per troy ounce |
| Minyak WTI | USD 82,50 – USD 98,70 per barel |
| Indeks Dolar AS | 98,30 – 100,20 |
Dampak konflik dan harga energi
Ibrahim menilai eskalasi antara AS dan Iran menjadi faktor utama yang menekan pasar. Serangan dan balasan yang berlanjut membuat situasi Timur Tengah tetap memanas. Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak global, yang kemudian berimbas pada komoditas energi lain.
Akibatnya, kenaikan minyak turut meningkatkan ekspektasi inflasi dan mendorong permintaan aset lindung nilai seperti emas.
Suku bunga AS dan data ketenagakerjaan
Pergerakan indeks dolar AS dan potensi kenaikan suku bunga the Fed juga menjadi variabel kunci. Ibrahim menyebut indeks dolar diperkirakan kembali mendekati level 100.
Ibrahim Assuaibi: Artinya indeks dolar AS akan kembali menuju level 100
Selain itu, data ketenagakerjaan AS menunjukkan tenaga kerja non-pertanian (Non-Farm Payrolls atau NFP) naik 162.000, jauh melampaui ekspektasi 53.000–56.000. Tingkat pengangguran tetap stabil di 4,1 persen.
Ibrahim Assuaibi: Kemungkinan kenaikkan suku bunga dilakukan pada pertemuan the Fed pada 16 September 2026. Kenaikan suku bunga bank sentral AS itu diprakirakan sebesar 25 basis poin
Ibrahim juga mengutip jajak pendapat yang menunjukkan hampir 58 persen ekonom AS memperkirakan the Fed akan menaikkan suku bunga.
Prospek dan implikasi
Gabungan faktor geopolitik dan data ekonomi membuat pasar berpeluang mengalami volatilitas lebih tinggi pekan depan. Jika konflik memanas dan data tenaga kerja tetap kuat, tekanan pada harga minyak dan ekspektasi suku bunga bisa mendorong harga emas naik.
Investor disarankan memantau perkembangan di Timur Tengah, data ekonomi AS, serta pengumuman the Fed pada 16 September 2026 untuk menentukan arah pasar selanjutnya.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Pangsa Pasar Pakan Hewan Peliharaan RI 0,03%, Peluang Ekspor Terbuka
Indonesia kuasai 0,03% pasar pakan hewan peliharaan global; pemerintah dorong peningkatan kualitas dan penet...
KAI Layani 351,6 Juta Penumpang hingga Agustus 2026
KAI Group melayani 351.602.397 penumpang hingga Agustus 2026, didominasi layanan PSO dan Commuter Line denga...
KAI Layani 21.911 Wisman di Sumatra Jan–Agu 2026
KAI melayani 21.911 wisatawan mancanegara di Sumatra pada Jan–Agu 2026 dari total 498.232 penumpang asing na...
BRI Life Rayakan Hari Pelanggan dengan Layanan dan Apresiasi
BRI Life memperingati Hari Pelanggan 2026 dengan pemeriksaan kesehatan, kunjungan pasien, dan voucher untuk...
Bapanas Dorong Budidaya Lobster untuk Ketahanan Pangan Daerah
Bapanas mendorong budidaya lobster di Lombok untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan nilai ekonom...
KDKMP Jambi Didorong Diperkuat Pengawasan dan Pendampingan
Seminar di Jambi menekankan penguatan pengawasan dan pendampingan hukum agar KDKMP berjalan mandiri dan memb...