Rupiah Melemah, Ditutup di Rp18.049 per Dolar AS
Rupiah ditutup melemah pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis, 4 Juni 2026. Nilai tukar tercatat turun 0,46 persen atau 82 poin menjadi Rp18.049 per dolar AS, menurut catatan pasar.
Sentimen Global Tekan Rupiah
Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyatakan pelemahan rupiah didorong sentimen kehati-hatian pelaku pasar. Mereka memperhatikan eskalasi konflik di Timur Tengah dan kondisi politik di Amerika Serikat.
Iran melakukan serangan ke basis-basis militer AS di Kuwait dan Bahrain. Sementara zionis Israel tetap melakukan serangan ke Lebanon Selatan di tengah kesepakatan gencatan senjata,
Menurut Ibrahim, perkembangan geopolitik tersebut membuat permintaan terhadap dolar AS menguat sebagai aset aman sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dinamika Politik AS dan Dampaknya
Ibrahim juga mencatat perkembangan di Kongres AS menjadi perhatian pasar. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR AS) menyetujui sebuah resolusi yang bertujuan menghentikan aksi militer yang terkait dengan kebijakan pemerintahan sebelumnya terhadap Iran. Namun, keputusan itu membutuhkan persetujuan Senat untuk mengantisipasi veto yang disebut-sebut akan dilakukan oleh Presiden Trump.
Data Ekonomi AS yang Menguatkan Ekspektasi The Fed
Selain faktor politik, data ekonomi AS memperkuat ekspektasi pasar bahwa the Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Laporan Automatic Data Processing (ADP) menunjukkan penambahan 122 ribu pekerjaan di sektor swasta pada Mei, melampaui ekspektasi dan naik dari bulan sebelumnya.
Sementara itu, Institute for Supply Management (ISM) mencatat indeks aktivitas jasa naik menjadi 54,5 pada Mei, dari 53,6 pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh biaya yang semakin tinggi untuk produk minyak bumi dan komoditas lain.
Kenaikan PMI Jasa, didorong oleh biaya yang meningkat untuk produk minyak bumi dan komoditas lainnya. Data-data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa the Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk jangka waktu lebih lama,
Risiko Domestik dan Penilaian Lembaga Internasional
Secara domestik, Ibrahim mengingatkan kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar tekanan fiskal. Kenaikan biaya impor energi berisiko mendorong defisit fiskal melewati ambang batas 3 persen dari produk domestik bruto.
Selain itu, penilaian dari lembaga pemeringkat internasional turut memengaruhi sentimen. Salah satu penilai memberikan peringkat Baa2 dengan outlook negatif pada PT Danantara Investment Management (DIM), yang menambah kehati-hatian investor terhadap aset domestik.
Dengan kombinasi tekanan geopolitik, data ekonomi AS yang kuat, dan risiko fiskal dalam negeri, pelaku pasar diperkirakan akan terus berhati-hati. Jika kondisi global memburuk atau harga minyak kembali naik, rupiah berpotensi menghadapi tekanan lebih lanjut dalam beberapa waktu mendatang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Anggota Oriflame: Lebih dari Sekadar Menjual Produk
Younita, anggota Oriflame sejak 2020, menyebut keanggotaan soal mencoba produk, harga member gratis, dan par...
Harga Emas Antam Naik Rp7.000 per Gram - 25 Juli 2026
Harga emas Antam naik Rp7.000 per gram jadi Rp2.612.000 (25 Juli 2026); buyback juga naik. Simak rincian har...
Komisi VI Apresiasi Kinerja Positif Pelindo Semester I 2026
Komisi VI DPR mengapresiasi capaian positif Pelindo Semester I 2026 setelah kunjungan kerja di Surabaya; Pel...
Blibli Tebar Diskon Apple hingga Rp5 Juta di Salebration ke-15
Blibli memberi diskon hingga Rp5 juta untuk produk Apple sampai 28 Juli 2026 dalam Salebration ke-15, termas...
Olahan Ikan Lele Mina Jawi Andiena Tingkatkan Nilai Jual
UMKM Mina Jawi Andiena di Ngawi mengolah lele panen jadi produk bernilai tambah seperti lele marinasi dan nu...
BI: Fasilitas Pinjaman Rp2.490 T Belum Digunakan, Dorong Penyaluran Kredit
BI mencatat fasilitas pinjaman Rp2.490 triliun atau 21,52% plafon kredit belum digunakan; bank didorong salu...