IHSG Anjlok ke 5.839,78, Pasar Tertekan Ketegangan Global
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada 5.839,78 atau turun 101,28 poin (1,7%) pada penutupan Kamis, 4 Juni 2026, seiring gelombang risiko global dan tekanan pasar domestik.
Ringkasan Pergerakan Pasar
IHSG dibuka pada 5.919,57 dan bergerak di zona merah sepanjang hari. Indeks mencetak level tertinggi 5.924,5 dan terendah 5.644,23 sebelum akhirnya ditutup di 5.839,78.
Pergerakan saham didominasi pelemahan; tercatat 623 saham melemah, 106 menguat, dan 85 stagnan. Nilai transaksi pasar mencapai 25,14 triliun, dengan volume sebesar 38,92 miliar lembar dan frekuensi perdagangan lebih dari 2,28 juta kali.
Penyebab Tekanan: Ketegangan Global dan Kebijakan Perdagangan
Tim Pilarmas Investindo Sekuritas memetakan pelemahan bursa Asia sebagai faktor utama yang menekan IHSG. Kenaikan tensi antara Amerika Serikat dan Iran membuat investor mengurangi risiko.
Selain itu, pasar mencermati meningkatnya ketegangan perdagangan AS–Tiongkok terkait rencana penambahan tarif. Kondisi diperparah oleh kebijakan Uni Eropa di bidang industri dan keamanan siber yang dapat membatasi perusahaan Tiongkok, serta ancaman balasan dari Beijing.
Dampak Sentimen Domestik
Dari sisi domestik, sentimen belum membaik sehingga memperburuk tekanan. Tim Pilarmas menilai keputusan pemeringkat kredit juga memengaruhi persepsi pelaku pasar.
"Indeks IHSG melemah seiring sentimen pasar yang belum membaik. Tekanan faktor global dan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dalam negeri masih membebani pergerakan pasar,"
Selain itu, nilai tukar rupiah yang masih berada di atas Rp18.000 terhadap dolar AS menambah kekhawatiran terkait prospek peringkat utang negara dan stabilitas makro.
Data Perdagangan Hari Ini
- Penutupan IHSG: 5.839,78 (-101,28 poin / -1,7%)
- Rentang perdagangan: 5.644,23 (terendah) — 5.924,5 (tertinggi)
- Saham melemah/menguat/stagnan: 623 / 106 / 85
- Nilai transaksi: 25,14 triliun
- Volume perdagangan: 38,92 miliar lembar
- Frekuensi transaksi: lebih dari 2,28 juta kali
Prospek dan Implikasi
Jika ketegangan geopolitik dan kebijakan perdagangan global terus meningkat, tekanan pada pasar modal domestik kemungkinan berlanjut. Pelaku pasar diperkirakan akan tetap selektif, menimbang risiko eksternal dan indikator makro dalam negeri.
Investor disarankan memantau perkembangan hubungan dagang internasional, kebijakan pemeringkat, serta pergerakan nilai tukar sebagai faktor penentu sentimen pasar selanjutnya.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
IHSG diperkirakan melemah dan menguji level 6.000 di tengah aksi jual asing serta kenaikan inflasi September...
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...
IHSG Melemah 0,83% ke 6.020 pada Sesi I (1 Okt 2026)
IHSG turun 0,83% ke 6.020,69 pada sesi I (1 Okt 2026), terdorong volatilitas global dan penyesuaian portofol...
Rupiah Kembali Melemah, Analis Waspadai Risiko Tembus Rp18.000
Rupiah melemah ke Rp17.919 per dolar AS pada pembukaan 1 Okt 2026; analis sebut rentan tembus Rp18.000 jika...