Ekonomi

Rupiah Menguat ke Rp17.827 Usai Pidato Nota Keuangan

Bagikan:
Grafik pergerakan kurs rupiah menguat terhadap dolar AS pada penutupan pasar

Jakarta, 14 Agustus 2026. Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat, naik 0,28 persen atau sebesar 50 poin ke posisi Rp17.827 per dolar AS. Penguatan ini bertepatan dengan respons pasar atas pidato nota keuangan Presiden dan target nilai tukar yang disampaikan pemerintah dalam RAPBN 2027.

Angka penutupan dan pergerakan pasar

Data menunjukan rupiah berakhir pada level yang lebih kuat dibanding sesi sebelumnya. Penguatan 0,28 persen mencerminkan sentimen positif dari dalam negeri yang lebih dominan pada sesi perdagangan hari itu.

Sentimen domestik: pidato kenegaraan dan target nilai tukar

Pasar bereaksi terhadap pernyataan pemerintah tentang target nilai tukar dan kinerja ekonomi. Tim Analis Phintraco Sekuritas menilai pidato kenegaraan memberi sinyal positif bagi stabilitas ekonomi dan ekspektasi pasar.

"Rupiah ditutup menguat, sebagai respons terhadap target Pemerintah terkait nilai tukar rupiah,"

Dalam pidato tersebut Presiden menyampaikan capaian ekonomi, termasuk pertumbuhan triwulan I-2026 sebesar 5,61% dan triwulan II sebesar 5,45%, yang disebut sebagai tingkat pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Pemerintah juga memaparkan realisasi investasi dan program percepatan pengembangan infrastruktur ekonomi daerah.

Faktor eksternal: dolar AS melemah

Selain sentimen domestik, pelemahan dolar AS juga menjadi pendorong rupiah. Analis pasar uang Lukman Leong mencatat serangkaian data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan mendorong pelemahan dolar.

"Serentetan data ekonomi di AS yang perlambatannya di luar harapan, membuat dolar AS melemah,"

Indeks dolar AS tercatat turun tipis ke 99,96 setelah rilis Indeks Harga Produsen (IHP) AS yang melambat menjadi 4,7% pada Juli, dari 5,5% pada Juni.

Implikasi bagi emiten dan prospek ke depan

Phintraco menilai kebijakan yang disampaikan dalam nota keuangan berpotensi mendukung pertumbuhan ekonomi dan kinerja emiten, khususnya di sektor energi, komoditas, perbankan, konstruksi, dan industri dasar. Namun efektivitas implementasi proyek dan realisasi investasi tetap menjadi faktor penentu dampak terhadap laba perusahaan.

"Dalam pandangan kami, berbagai kebijakan tersebut berpotensi mendukung pertumbuhan ekonomi dan earnings emiten,"

Ke depan, pergerakan rupiah akan dipengaruhi kombinasi faktor domestik seperti realisasi investasi dan kelanjutan kebijakan fiskal, serta faktor eksternal termasuk data ekonomi AS. Investor akan tetap memantau implementasi program pemerintah dan data makro global yang dapat mengubah arah pasar valuta.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait