Serangan Israel ke Iran, Rupiah Anjlok ke Rp18.187 per Dolar
Rupiah terus tertekan dan ditutup melemah ke Rp18.187 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini, Senin, 8 Juni 2026. Pelemahan sebesar 0,84 persen (151 poin) ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah serta data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan.
Penutupan nilai tukar dan angka penting
Berdasarkan data pasar, dolar AS menguat tajam seiring laporan serangan yang kembali terjadi antara Israel dan Iran. Sentimen pasar memburuk karena kekhawatiran gejolak regional bisa memperpanjang ketidakpastian pasokan energi.
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Rupiah (penutupan) | Rp18.187 per USD (turun 0,84%) |
| Penciptaan lapangan kerja AS (Mei) | +172.000 |
| Tingkat pengangguran AS | 4,3% |
| Cadangan devisa Indonesia (Mei 2026) | USD 144,9 miliar |
Dampak eskalasi konflik
Ketegangan meningkat setelah pelaporan ledakan di beberapa kota Iran. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan kekhawatirannya terkait dampak lanjutan konflik terhadap pasar.
“Laporan media menyebutkan terdengar ledakan di Teheran, Tabriz dan Isfahan. Serangan Israel ke Iran mengikis harapan akan segera berakhir perang dan dibukanya kembali Selat Hormuz,”
Kenaikan risiko geopolitik mendorong permintaan safe haven pada dolar AS, sehingga menekan mata uang negara berisiko termasuk rupiah. Pasar juga memperhatikan kemungkinan gangguan pasokan minyak yang dapat mendorong harga energi global.
Data ekonomi AS dan implikasi kebijakan
Selain faktor geopolitik, data tenaga kerja AS bulan Mei menunjukkan penambahan 172.000 pekerjaan. Angka ini melampaui ekspektasi pasar yang sebesar 85.000 pekerjaan.
“Laporan data pekerjaan non-pertanian (NFP) yang lebih kuat dari perkiraan, menjadi argumen The Fed untuk mempertahankan suku bunga. Fokus pasar selanjutnya adalah data inflasi AS yang akan dirilis hari Rabu lusa,”
Data tenaga kerja yang solid menguatkan ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Hal ini menambah tekanan pada mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Situasi fiskal dan cadangan devisa
Di dalam negeri, Ibrahim mencatat penggunaan anggaran pada program prioritas pemerintah dan potensi perluasan defisit neraca transaksi berjalan. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia mendorong kebutuhan subsidi BBM yang lebih besar.
“Pemerintah juga nampaknya harus menghitung ulang kebutuhan untuk subsidi BBM, karena melambungnya harga minyak dunia,”
Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa turun menjadi USD 144,9 miliar pada Mei 2026. Penurunan ini menambah tantangan bagi stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.
Prospek ke depan
Tekanan pada rupiah diperkirakan berlanjut dalam jangka pendek jika konflik di Timur Tengah belum mereda dan data ekonomi AS tetap kuat. Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi AS dan langkah kebijakan Fiskal serta Moneter domestik untuk menilai arah pasar selanjutnya.
Berita Terkait
DPR Minta Pemerintah Jaga Industri dari Dampak Geopolitik
Ketua Komisi VII DPR minta pemerintah lindungi industri nasional dari dampak geopolitik, sementara Kemenperi...
Kemenperin Siapkan 3 Strategi Perkuat Industri Nasional
Kemenperin siapkan tiga strategi—insentif, pengendalian impor, dan penataan pelabuhan masuk—untuk menjaga ke...
Pelaku Usaha Didorong Perkuat Permodalan Hadapi Fluktuasi Dolar
Pelaku usaha manufaktur diminta memperkuat permodalan agar terjaga likuiditas dan ketenagakerjaan saat rupia...
DPR Soroti Paradoks Serapan Anggaran Kemenperin
Komisi VII soroti serapan anggaran Kemenperin 42,57% atau Rp898 miliar hingga awal Juni 2026, namun realisas...
Realisasi Anggaran Kemenperin Lampaui Target, Terserap Rp898 Miliar
Kemenperin realisasikan Rp898 miliar atau 42,57% dari pagu Rp2,11 triliun hingga 5 Juni 2026; DPR minta eval...
Perkuat Rupiah, Masyarakat Diajak Utamakan Produk Lokal
Masyarakat diajak utamakan produk lokal dan pariwisata domestik untuk memperkuat rupiah dan mengurangi keter...