Putra Pendiri: RRI Hadapi Tantangan Era Digital
Putra salah satu pendiri Radio Republik Indonesia (RRI), Irawan Ronodipuro, menilai RRI harus beradaptasi menghadapi perubahan ekosistem informasi di era digital. Pernyataan itu disampaikan saat Sarasehan "RRI Kemarin, Kini, dan Nanti" di Auditorium Jusuf Ronodipuro RRI, Jakarta, Rabu, 9 September 2026. Menurut Irawan, masyarakat kini membutuhkan informasi yang cepat sekaligus terpercaya di tengah maraknya disinformasi dan manipulasi digital.
Sejarah dan peran RRI
Irawan mengingatkan sejarah panjang RRI yang terikat erat dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sejak awal, RRI berperan menyuarakan keberadaan Republik ketika banyak keterbatasan komunikasi masih mempersulit penyebaran informasi. Ia menekankan pentingnya suara radio pada masa itu sebagai alat pemersatu bangsa.
"RRI menjadi suara berdirinya Republik. Melalui radio, rakyat di berbagai penjuru Indonesia mengetahui Republik Indonesia berdiri," kata Irawan.
Ia menambahkan bahwa keberanian pendahulu RRI mencerminkan determinasi mempertahankan negara, yang diringkas dalam kalimat penuh makna.
"Ada sebuah kalimat yang menurut saya sangat tepat menggambarkan semangat itu, yaitu ‘Sekali di udara, tetap di udara’," ujarnya.
Tantangan di era digital
Irawan mengatakan perkembangan teknologi mengubah cara publik mengakses berita dengan cepat. Kini informasi tersedia melalui televisi, portal berita, media sosial, podcast, hingga kecerdasan buatan (AI), sehingga arus informasi menjadi sangat cepat dan sulit dikendalikan.
Perubahan itu, menurutnya, juga memunculkan beragam masalah baru seperti disinformasi, misinformasi, manipulasi informasi, deepfake, dan propaganda digital. Kondisi ini menuntut standar verifikasi yang lebih tinggi dari penyedia informasi.
Relevansi media publik
Irawan berargumen bahwa tantangan digital justru memperkuat peran media publik seperti RRI. Ketika banyak sumber informasi meragukan, publik membutuhkan lembaga yang menyediakan berita yang benar, berarah, dan dapat menjadi pedoman dalam mengambil keputusan.
Ia menegaskan bahwa kebutuhan masyarakat bukan hanya kecepatan, tetapi juga kepercayaan. Oleh karena itu, perdebatan soal masa depan RRI tidak cukup jika hanya berfokus pada kelangsungan gelombang radio semata. Adaptasi terhadap kebutuhan audiens dan penggunaan teknologi baru harus menjadi perhatian utama.
Implikasi dan langkah ke depan
Pandangan Irawan membuka diskusi tentang bagaimana RRI dapat memperkuat fungsi publiknya di tengah lanskap media yang berubah cepat. Rekomendasi praktis mencakup peningkatan verifikasi berita, integrasi platform digital, serta edukasi literasi media untuk publik. Langkah-langkah tersebut dinilai perlu agar RRI tetap relevan dan dipercaya oleh masyarakat luas.
Dengan perubahan yang cepat, masa depan RRI bergantung pada kemampuan adaptasi tanpa mengesampingkan prinsip penyajian informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
KemenPPPA Perkuat Pencegahan TPPO dengan Data dan Sinergi
KemenPPPA memperkuat pencegahan TPPO lewat integrasi data, sinergi lintas sektor, dan pemberdayaan masyaraka...
Haornas 2026: Tema, Logo, dan Sejarah Singkat
Haornas 2026 diperingati 9 September dengan tema "Menuju Masyarakat Aktif dan Bugar!", menekankan partisipas...
Kemenperin-Korea Perkuat SDM Industri lewat Ppuri Technology
Kemenperin dan Korea bekerja sama melalui KITC luncurkan program HRD Ppuri Technology 2026–2030 dengan hibah...
Wamen Dorong RRI Perkuat Integritas Informasi Hadapi Algoritma
Wamen Nezar mendorong RRI perkuat integritas informasi untuk menghadapi echo chamber, microtargeting, dan po...
Komite II DPD: Konektivitas Nasional Harus Lebih dari Infrastruktur
Komite II DPD minta konektivitas nasional melampaui infrastruktur, menjangkau 3TP, dan prioritaskan akses tr...
Menko Polkam: Penanganan TPPO Harus Terintegrasi dan Berbasis Data
Menko Polkam Djamari Chaniago minta penanganan TPPO terintegrasi dengan basis data nasional dan deteksi dini...