Rupiah Berisiko Melemah Pekan Depan akibat Rilis Data BPS & BI
Nilai tukar rupiah diperkirakan berisiko melemah terhadap dolar AS sepekan mendatang karena sejumlah data ekonomi penting dari Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia akan dirilis pada awal Agustus 2026. Proyeksi pelemahan didorong oleh ekspektasi defisit neraca perdagangan, penurunan cadangan devisa, serta perlambatan indikator konsumsi dan produksi.
Proyeksi pelemahan dan indikator dolar AS
Analis pasar menilai tekanan terhadap rupiah kuat pada pekan ini. Pergerakan indeks dolar AS dan sentimen pasar global diperkirakan turut memengaruhi kisaran nilai tukar domestik.
Nilai tukar rupiah kemungkinan besar akan melemah, mendekati level di Rp18.250 sampai Rp18.300an per dolar AS. Sementara indeks dolar AS diprakirakan akan bergerak di level 99,20-102,20
Data BPS yang bakal dirilis
Pada Senin 3 Agustus 2026, BPS akan merilis beberapa data kunci, antara lain Neraca Perdagangan untuk Juni dan angka inflasi untuk Juli 2026. Pasar memperhatikan data ini karena bisa mengubah ekspektasi arus modal dan permintaan impor.
Neraca perdagangan bulan Juni kemungkinan akan defisit. Sedangkan laju inflasi diprakirakan akan melandai karena harga-harga relatif turun karena danya intervensi pasar
PMI manufaktur dan Indeks Keyakinan Konsumen
Data Purchasing Managers Index atau PMI manufaktur juga akan dirilis pekan ini. Prediksi menunjukkan angka di bawah 50, menandakan kontraksi aktivitas produksi. Hal ini terkait penurunan tenaga kerja akibat kebijakan PHK di sejumlah sektor.
Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen berjalan menurun. Untuk Juli diperkirakan berada di level sekitar 116,6, turun dari 117,8 pada bulan sebelumnya, menandakan sentimen rumah tangga yang melemah.
Cadangan devisa dan aturan internasional
Bank Indonesia akan merilis angka cadangan devisa. Proyeksi menunjukkan penurunan dari posisi Juni sebesar USD145,6 miliar. Angka itu setara dengan pembiayaan impor sekitar 4,9 bulan, di bawah panduan internasional untuk negara berperingkat BBB.
Aturan internasional nya, negara dengan rating utang BBB seperti Indonesia, cadangan devisanya harus mampu membiayai 5 bulan impor
Inflasi: moderasi dan penyebab
Kepala ekonom beberapa institusi memperkirakan inflasi akan melambat pada Juli. Inflasi bulanan diperkirakan sekitar 0,03 persen sementara inflasi tahunan mendekati 3,06 persen. Pelemahan terutama ditopang oleh penurunan inflasi kelompok volatile food, antara lain karena turunnya harga cabai merah dan bawang merah.
Implikasi dan prospek
Gabungan prospek neraca perdagangan defisit, cadangan devisa yang lebih tipis, serta tanda-tanda kontraksi aktivitas manufaktur meningkatkan risiko pelemahan rupiah dalam jangka pendek. Pelaku pasar akan memantau rilis data BPS dan BI untuk mengkalibrasi posisi dan ekspektasi nilai tukar ke depan.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Sertifikasi Halal Jadi Modal UMKM Bangun Kepercayaan Konsumen
Sertifikasi halal harus dijalankan sebagai komitmen produksi bagi UMKM agar kepercayaan konsumen terjaga; pr...
Peran BUMN Minerba Perlu Diperkuat, Setoran Negara Belum Optimal
Pemerintah diminta memperkuat peran BUMN di sektor minerba karena kekayaan USD4 triliun belum tercermin pada...
Literasi Keuangan Diperkuat untuk Cegah Aktivitas Ilegal
Anis Byarwati minta literasi keuangan diperkuat melalui kolaborasi DPR, OJK, BSI, dan media untuk cegah akti...
Menkop Dorong Koperasi Manfaatkan Dana Bergulir di Borobudur Expo
Menteri Koperasi mendorong pemanfaatan dana bergulir lewat LPDB di Borobudur Expo 17-20 Sept 2026 untuk memp...
Harga Emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian Naik 19 Sept 2026
Harga emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian naik pada 19 Sept 2026, masing-masing Rp16.000 dan Rp15.000 per gra...
Harga Emas Antam Naik Rp15 Ribu, Menguat Empat Hari Beruntun
Harga emas Antam naik Rp15.000 menjadi Rp2.638.000/gram pada 19 September 2026, memperpanjang penguatan empa...