Prakiraan Harga Emas Pekan Depan: Support Rp2,41Jt, Resistansi Rp2,72Jt
Harga emas dunia diperkirakan masih fluktuatif pekan depan seiring memanasnya konflik geopolitik. Analis Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan akan berada pada level support dan resistansi tertentu, yang berimplikasi pada harga emas Antam di pasar domestik.
Level harga yang diperkirakan
Ibrahim menyebut harga emas dunia sepekan ke depan kemungkinan bergerak di level support USD3.990 per troy ounce dan resistansi di kisaran USD4.132 per troy ounce. Konsekuensinya, harga logam mulia Antam diperkirakan ditransaksikan pada level support Rp2,41 juta per gram dan resistansi di Rp2,72 juta per gram.
"Harga emas dunia sepekan ke depan diprakirakan akan bergerak di level support USD3.990 per troi ons. Sedangkan level resistansi di kisaran USD4.132 per troi ons,"
"Secara jangka pendek, level support logam mulia di harga Rp2,58 juta per gram. Sedangkan level resistansinya di harga Rp2,63 juta per gram,"
Pergerakan pekan sebelumnya
Sepekan sebelumnya, harga logam mulia Antam bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menurun. Pada Sabtu, 1 Agustus 2026, harga tercatat turun sebesar Rp20.000 sehingga menjadi Rp2,60 juta per gram.
Faktor pendorong: geopolitik dan permintaan
Ibrahim menekankan dua faktor utama yang memengaruhi harga emas, yakni kondisi geopolitik dan dinamika supply-demand. Ketika harga minyak naik sementara emas turun, bank-bank sentral memanfaatkan momen tersebut untuk mendiversifikasi cadangan lewat pembelian emas.
Data dari World Gold Council menunjukkan permintaan emas pada semester I 2026 meningkat sekitar 2 persen menjadi sekitar 2.522 ton. Nilai transaksi disebut mencapai USD380 miliar, dibandingkan permintaan sekitar 1.269 ton pada semester I 2025.
"Nilai transaksinya mencapai USD380 miliar,"
Risiko geopolitik dan proyeksi harga minyak
Ibrahim memperkirakan permintaan emas akan terus meningkat pada semester II 2026 karena ketegangan di Timur Tengah dan konflik Rusia-Ukraina. Ia juga menyinggung rencana aksi militer AS terhadap Iran dan permintaan tambahan anggaran perang kepada Kongres AS sebesar USD95 miliar.
Ketegangan di Timur Tengah diprediksi mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Ibrahim memprakirakan harga Brent berada di kisaran USD95–102 per barel pada pekan depan, yang akan menjadi faktor penentu lanjutan bagi pergerakan harga emas.
Implikasi dan outlook
Secara ringkas, prospek harga emas pekan depan masih dipengaruhi oleh gejolak geopolitik dan permintaan bank sentral. Investor dan pembeli ritel disarankan memantau level support-resistansi yang disebutkan dan perkembangan konflik global, karena kedua hal itu dapat mengubah arah pasar dalam waktu singkat.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...