Revitalisasi Sekolah Pascabanjir di Aceh Utara Libatkan Warga
Lhoksukon – Sejumlah sekolah terdampak banjir di Aceh Utara dibangun kembali melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dengan pola swakelola. Pekerjaan berlangsung di beberapa sekolah, termasuk SMA Negeri 3 Modal Bangsa Lhoksukon dan SMA Negeri 1 Meurah Mulia, dan dilaporkan pada Kamis (18/5). Program bertujuan memperbaiki fasilitas yang rusak akibat banjir akhir 2025 lalu dan memperkuat keterlibatan masyarakat setempat.
Rehabilitasi dan anggaran
SMA Negeri 3 Modal Bangsa Lhoksukon menjadi salah satu lokasi utama revitalisasi. Kepala sekolah Rika Syufrina melalui Ketua Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) Murhati menyebutkan jenis pekerjaan yang dibiayai program tersebut. Pekerjaan mencakup perbaikan ruang belajar, laboratorium, dan fasilitas sanitasi.
- Tiga unit laboratorium
- Tiga unit ruang belajar
- Satu unit ruang OSIS
- Satu unit ruang Bimbingan Konseling (BK)
- Satu unit fasilitas MCK baru dan rehab satu unit MCK
Anggaran yang terserap mencapai Rp1,67 miliar. Meski demikian, nilai tersebut belum mampu menutup seluruh kerusakan. Beberapa kebutuhan krusial seperti perbaikan asrama siswa dan pengadaan mobiler belum dapat diakomodasi dalam tahap ini.
Pelibatan warga dan pemberdayaan ekonomi lokal
Salah satu ciri program ini adalah penerapan pola swakelola yang melibatkan warga sekitar. Pada proyek di SMAN-3 Modal Bangsa, delapan tukang dan puluhan tenaga pekerja direkrut dari lingkungan sekitar sekolah. Pendekatan ini dinilai memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap satuan pendidikan.
Di SMA Negeri 1 Meurah Mulia, pelaksanaan revitalisasi juga menempatkan peran penting warga sekolah. Kepala SMA Negeri 1 Meurah Mulia Hanafiah, S.Ag., melalui Ketua P2SP Mauliyati, SE., menyampaikan bahwa pelaksanaan berupaya memberdayakan masyarakat di sekitar sekolah. Panitia P2SP beranggotakan 10 orang termasuk unsur komite sekolah, dan terdapat 15 tenaga tukang lokal.
"Panitia P2SP merupakan warga sekolah, sedangkan ketua pelaksana adalah Ketua Komite Sekolah, Syamsuddin, yang lebih dikenal dengan sebutan Ayah 18,"
Material dan perlengkapan lain juga sebagian besar disuplai dari toko bangunan di Kecamatan Meurah Mulia atau sekitar sekolah, sehingga aliran dana kembali ke ekonomi lokal.
Kebutuhan tersisa dan prospek ke depan
Walau progres fisik terlihat, pihak sekolah menilai masih ada pekerjaan lanjutan yang perlu didanai, terutama untuk asrama dan mobiler. Pemerintah pusat melalui program ini memberikan pijakan awal, namun dukungan tambahan diperlukan untuk memulihkan semua fungsi sekolah secara penuh.
Secara lebih luas, Program Revitalisasi Satuan Pendidikan selain memperbaiki infrastruktur juga berkontribusi pada pemulihan sosial ekonomi pascabanjir. Dengan melibatkan masyarakat secara langsung, program ini mendorong kepemilikan bersama dan mempercepat pemulihan layanan pendidikan di Aceh Utara.
Berita Terkait
LPTQ Humbang Hasundutan Genjot Pembinaan saat MTQ ke-40 di Medan
Wakil Ketua LPTQ Humbang Hasundutan mendampingi kafilah saat MTQ ke-40 di Medan dan menjelaskan program pemb...
AMPI Sumut Gelar Musda dan Pelantikan Pengurus 21 Juni di Medan
AMPI Sumut menggelar Musda dan pelantikan pengurus 21 Juni di Medan; ribuan kader hadir untuk konsolidasi da...
Kapolsek Padangsidimpuan Selesaikan Konflik Air di Tiga Desa
Kapolsek Padangsidimpuan menengahi sengketa air tiga desa; solusi mengumpulkan rembesan di Bukit Angkola dis...
Kebakaran Pasar Dwikora Pematangsiantar, 311 Kios Terbakar
Pasar Dwikora di Pematangsiantar terbakar dini hari 18 Juni; 311 kios terbakar dan api padam sekitar pukul 0...
Delapan Santri TPQ Al-Muhajirin Wakili MTQ Sumut ke-40
Delapan santri TPQ Al-Muhajirin dari Medan akan berlaga di MTQ Sumut ke-40 (15-24 Juni 2026) setelah melalui...
Rumah Singgah Aceh Selatan Diresmikan di Tapaktuan
Bupati Aceh Selatan meresmikan Rumah Singgah H. Muhammad Kasim di Tapaktuan untuk membantu keluarga pasien d...