Babad Pasir Luhur Perkuat Budaya Lokal di Dukuh Cibun Banyumas
Tiga anak melantunkan Babad Pasir Luhur pada acara Kenduren Budaya Dukuh Cibun, Senin, 10 Agustus 2026. Lagu-naskah kuno itu dibacakan di hadapan sekitar 30 pengunjung sebagai bagian dari upaya memperkuat kebudayaan lokal Banyumas.
Pembacaan naskah dan suasana acara
Pelaksanaan acara berlangsung sederhana namun khidmat. Ketiga anak membawakan naskah kuno sambil duduk pada jamuan makan malam, menarik perhatian warga dan pelestari budaya setempat. Kegiatan ini merupakan rangkaian Kenduren Budaya Dukuh Tjiboen yang bertujuan menghidupkan tradisi lokal di tingkat dusun.
Asal usul naskah dan ancaman kepunahan
Naskah Babad Pasir Luhur termasuk koleksi tertua di Banyumas, sempat terancam punah setelah pemaca tradisional, Mbah Sikun, meninggal dunia. Naskah tersebut tercatat pernah dikompilasi oleh J. Knebel pada tahun 1900, sehingga memiliki nilai sejarah tinggi bagi daerah.
Peran akademisi dan pelestari lokal
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman, Nisa Roiyasa, aktif membina pembaca muda. Ia menelusuri buku-buku tulisan tangan aksara Jawa untuk menghidupkan kembali tradisi pembacaan.
"Ketika saya merasa kecapekan dan hilang semangat, datang dukungan dari teman-teman yang lain,"
Upaya pelestarian juga dipimpin oleh pelestari Nasirun Purwokartun yang mengumpulkan sekitar 100 naskah kuno sejak 2014. Dari koleksinya, ia berhasil menerjemahkan 25 naskah menjadi lebih dari 100 judul dalam Serial Babad Banyumas.
Komitmen komunitas dan tanda tangan prasasti
Perhatian datang dari berbagai daerah, termasuk anggota Perkumpulan Hidora Banyuwangi, Tedjo. Para peserta acara menandatangani Prasasti Cibun sebagai simbol komitmen menjaga tradisi turun-temurun.
"Yang paling penting, habis ini kita mau melakukan apa? Apakah hanya puas di diskusi, atau mau berbuat sesuatu?"
Dampak dan prospek pelestarian
Kabupaten Banyumas, yang berdiri sejak 1571 dan kini dihuni sekitar 1,85 juta jiwa, tercatat memiliki 27 kecamatan serta 331 desa dan kelurahan. Pelestarian budaya di tingkat dusun seperti Dukuh Cibun menjadi aset penting bagi pemerintah daerah dan komunitas lokal.
Anak-anak Dukuh Cibun sebelumnya pernah menampilkan maca babad dan jemblungan dalam festival tingkat Jawa Tengah di Kabupaten Semarang pada 2022, menunjukkan potensi generasi muda untuk meneruskan tradisi.
Pelestarian naskah dan pembinaan pembaca muda yang terkoordinasi dianggap kunci agar Babad Pasir Luhur tidak lagi terancam punah. Komitmen berkelanjutan dari komunitas, akademisi, dan pelestari lokal dibutuhkan untuk menerjemahkan minat itu menjadi praktik jangka panjang.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
7 Pernak-pernik Meriah Sambut Kemerdekaan
Simak tujuh pernak-pernik khas untuk menyambut 17 Agustus, dari bendera hingga dekorasi perjuangan.
Makna Lagu Garuda Pancasila: Semangat Pengabdian dan Cinta Tanah Air
Lagu 'Garuda Pancasila' karya Prohar Sudharnoto (1950-an) menanamkan semangat pengabdian, pengorbanan, dan p...
Festival Bedhayan VI Ajak Anak Muda Temukan Keseimbangan
Festival Bedhayan VI di Jakarta (8 Agustus 2026) menghadirkan 16 kelompok tari dan mengajak generasi muda me...
Nyi Ageng Serang: Pejuang Perempuan di Balik Perang Diponegoro
Nyi Ageng Serang memimpin pasukan dan menasihati Pangeran Diponegoro sejak 1825; wafat 1838 dan dianugerahi...
Makna Lagu 'Berkibarlah Benderaku' sebagai Pengingat Patriotisme
Lagu 'Berkibarlah Benderaku' karya Ibu Soed mengingatkan pentingnya menjaga Bendera Merah Putih sebagai simb...
10 Tradisi Unik Menyambut 17 Agustus di Berbagai Daerah
Sepuluh tradisi unik menyambut 17 Agustus, dari Peresean di Lombok hingga Karapan Kambing di Lumajang, mence...