PB IPSI Perkuat Diplomasi Agar Pencak Silat Masuk Olimpiade
PB IPSI memperkuat diplomasi dan menyesuaikan aturan untuk mendorong pencak silat masuk ke Olimpiade, sambil mempertahankan akar budaya. Sekjen PB IPSI, Abdul Karim Aljufri, mengatakan langkah itu disampaikan kepada RRI pada Senin, 10 Agustus 2026.
Strategi diplomasi dan penyesuaian aturan
Menurut Karim, penyesuaian aturan diperlukan agar pencak silat memenuhi standar olahraga multievent internasional. Namun, perubahan dilakukan tanpa menghapus nilai-nilai tradisi yang melekat pada cabang olahraga itu.
“Tidak boleh meninggalkan akar tradisi Indonesia, sekalipun untuk masuk Olimpiade ada penyesuaian,” kata Karim.
Dia menambahkan bahwa penyesuaian juga penting demi keselamatan atlet dan penilaian yang objektif dalam kompetisi internasional.
Pertahankan identitas budaya pada pertandingan
PB IPSI tetap menjaga sejumlah tradisi dalam pertandingan. Aturan yang dipertahankan meliputi busana wasit dan larangan penggunaan alas kaki di atas matras.
“Kalau IOC mewajibkan sepatu, kami masih melarang sepatu naik ke matras pertandingan,” ujar Karim.
Karim menegaskan bahwa matras mempunyai nilai sakral sehingga kebersihan dan tata caranya harus dijaga sebagai bagian dari identitas pencak silat.
Ekspansi internasional dan pembinaan
Upaya menuju pengakuan Olimpiade juga dilakukan lewat penyebaran teknik dan pembinaan ke banyak negara. PB IPSI menerima kuota untuk mengirim pelatih ke 30 negara dengan dukungan Kementerian Pemuda dan Olahraga.
- Negara tujuan pelatihan termasuk Uzbekistan, Maroko, India, dan Amerika.
- Program pembinaan mencakup pelatihan pelatih, peningkatan kompetensi wasit dan juri, serta penyelenggaraan pertandingan.
Tujuan strategi ini adalah menciptakan basis kompetisi yang kuat dan merata. Karim mengatakan Indonesia tidak ingin tetap menjadi satu-satunya penguasa teknis pencak silat.
“Kita tidak mungkin meminta orang bertanding kemudian hanya untuk kalah dengan kita,” kata Karim.
Tantangan dan prospek ke depan
Salah satu tantangan utama adalah mengubah persepsi sebagian generasi muda yang menganggap pencak silat sebagai olahraga kampungan. Karim membantah pandangan itu dan menegaskan nilai prestasi pencak silat setara dengan cabang lain.
Untuk itu, PB IPSI mendorong masuknya pencak silat ke jalur pendidikan dan program prestasi. Menurut Karim, keberhasilan atlet muda di tingkat lokal sudah memberi arti besar bagi komunitas dan membuka peluang pendidikan serta karier.
Dengan kombinasi diplomasi, pembenahan aturan, dan pembinaan internasional, PB IPSI berharap legitimasi pencak silat sebagai olahraga internasional semakin kuat dan peluang masuk Olimpiade semakin terbuka.
Pecinta olahraga yang aktif melaporkan sepak bola, bulu tangkis, dan berbagai kompetisi internasional.
Berita Terkait
FIFA ASEAN Cup 2026: Indonesia Bidik Prestasi Maksimal sebagai Tuan Rumah
Timnas Indonesia bidik hasil maksimal di FIFA ASEAN Cup 2026 sebagai tuan rumah untuk perbaiki peringkat FIF...
Persija Tutup Piala Presiden, TC di Thailand 10–23 Agustus
Persija finis peringkat ketiga Piala Presiden 2026 dan akan adakan TC di Thailand 10–23 Agustus untuk persia...
Munoz Debut untuk Liverpool, Tatap Musim Baru dengan Optimistis
Victor Munoz melakukan debut bersama Liverpool di laga pramusim melawan Monaco setelah transfer yang rampung...
Stadion Vallecas Dinilai Tak Aman, Rayo Pindah ke Leganes
Rayo Vallecano memindahkan laga kandang melawan Alaves pada 20 Agustus ke Leganes setelah Stadion Vallecas d...
Indonesia Women's League 2026 Dimulai 17 Oktober, 6 Tim Bertarung
Indonesia Women's League 2026 dimulai 17 Oktober di Stadion Soemantri; enam klub akan memainkan 15 laga dala...
Trump Dukung Infantino di Tengah Polemik Rencana FFE
Donald Trump menyatakan dukungan untuk Gianni Infantino pada 11 Agustus 2026, menentang upaya penggantiannya...