Restu Sayur: UMKM Malang Bangkit Lewat Inovasi Produk Olahan
Emi Widyawati Marsuti, pemilik Restu Sayur di Malang, hampir bangkrut ketika pandemi Covid-19 menghapus pasar usahanya. Kini usahanya pulih dengan mengolah hasil tani menjadi produk awet seperti Surya Chips, dipasarkan ke puluhan gerai oleh-oleh dan hotel di Malang.
Krisis pasar dan dampak pandemi
Sebelum pandemi, Restu Sayur memasok sayuran segar ke hotel, katering, restoran, dan supermarket di Malang Raya. Model bisnis berjalan lewat kemitraan dengan petani lokal yang menanam sesuai kebutuhan dan kesepakatan harga.
Ketika pandemi melanda, permintaan tiba-tiba lenyap. Hotel tutup, katering berhenti, dan acara dibatalkan. Akibatnya, banyak komoditas seperti kentang dan wortel tidak dipanen karena tidak ada pembeli.
Kalau dibilang rugi, ya rugi sekali. Bahkan bisa dibilang bangkrut.
Strategi bertahan: antar ke rumah dan pemanfaatan jaringan
Pada awal krisis, Emi mencoba menjaga arus kas dengan layanan antar ke rumah. Ia memanfaatkan jaringan mahasiswa penghuni kos sebagai kurir dan menerapkan minimal belanja Rp250 ribu.
Namun upaya ini hanya menutupi sebagian kecil stok. Menurut Emi, penjualan sangat minim sehingga tidak menutup biaya operasional.
Inovasi produk sebagai jalan keluar
Alih-alih menyerah, Restu Sayur mengembangkan pengolahan hasil pertanian menjadi produk memiliki umur simpan lebih lama. Inovasi ini mulai dirintis sebelum pandemi dan disempurnakan setelahnya.
Sekitar 2015 mulai dikembangkan produk camilan yang dikenal sebagai Surya Chips atau Restu Chips. Pengembangan berlanjut sehingga kini muncul beberapa merek unggulan.
Produk unggulan dan jangkauan pemasaran
Restu Sayur kini menawarkan produk seperti Marning Sultan, Gincu, Jijep, dan Rampis. Masing-masing memiliki karakter khas:
- Marning Sultan: keripik dari jagung manis segar dengan tekstur lebih renyah.
- Gincu: olahan jahe kering berpadu kacang karamel dan rempah.
- Jijep: jipang berbahan beras ketan putih dan hitam dengan perisa alami jeruk.
- Rampis: rambak berbahan dasar pisang.
Semua merek tersebut telah mendapat perlindungan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Saat ini produk dipasarkan di sekitar 20 gerai oleh-oleh dan hotel, termasuk beberapa kafe serta hotel di Malang.
Pelajaran dan prospek ke depan
Emi menekankan bahwa inovasi dan adaptasi menjadi kunci bagi UMKM agar bertahan dalam perubahan pasar. Ia mendorong pelaku usaha lain untuk terus mencari peluang dari aset yang dimiliki.
Kalau kita tidak adaptif, usaha bisa berhenti. Yang penting terus mencari apa yang bisa dilakukan dari apa yang kita miliki.
Dengan memperluas jaringan distribusi dan menjaga kualitas produk, Restu Sayur berharap pertumbuhan penjualan dapat berlanjut dan membuka peluang kerja bagi petani mitra.
Analis bisnis yang mengulas perkembangan industri, korporasi, dan peluang investasi.
Berita Terkait
Kopi Leworook Flores Timur Menembus Pasar Nasional
Kopi Leworook Flores Timur bertransformasi lewat pengolahan modern dan modal usaha, menembus ritel lokal dan...
Sprei Harumi Jadi Brand Bedding Sejak 2019
Sprei Harumi, yang bermula dari produksi daster Malangan sejak 2014, resmi berdiri sebagai brand bedding pad...
Sprei Harumi Sesuaikan Produk dengan Karakter Konsumen
Sprei Harumi merancang produk berdasarkan karakter dan perilaku konsumen, menawarkan varian katun dan Tencel...
Harga Minyak Goreng Naik, UMKM Kuliner Natuna Tertekan
Kenaikan harga minyak goreng di Natuna menekan UMKM kuliner; biaya produksi naik dan pelaku enggan menaikkan...
Berkah Ibu: Sambal Rumahan Tanpa Pengawet dan Non-MSG
UMKM Berkah Ibu di Malang menghadirkan sambal rumahan tanpa pengawet dan MSG, dibuat manual dan dijual lewat...
Dukungan Keluarga Perkuat Usaha Rajut Safied di Malang
Keluarga menjadi tulang punggung Rajut Safied di Cemoro Kandang; terlibat produksi dan pengembangan produk s...